Alfalahiyyah


Notice: Undefined property: JObject::$description in /home/zahrian/web/alfalahiyyah.org/public_html/templates/shaper_university/html/com_k2/templates/default/user.php on line 59

Garam Dan Telaga

13 November 2014, 3:31 pm

 

Oleh : Umy Dahliah, S.Pd.I (Wali Kelas II MI Al-Falahiyyah)

 

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi datanglah seorang anak muda yang sedang dirudung masalah. Langkahnya gontai dan raut mukanya lusuh. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tidak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya”, ujar pak tua itu.

“Pahit, pahit sekali”, jawab sang tamu sambil meludah ke samping.

Pak tua sedikit tersenyum, ia lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak tua lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang mengaduk aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan air telaga itu“Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai meneguk air itu, pak tua berkata lagi.

“Bagaimana rasanya?”.

“Segar” sahut tamunya.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” Tanya pak tua.

“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda, ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di tepi telaga itu.

“Anak Muda dengarlah “ ucapnya.

“Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang, jumlah      dan rasa pahit itu adalah sama dan memang akan tetap sama. Tapi kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki, kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati/qalbu kita, jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu, luaskanlah hatimu dalam menerima semuanya untuk menampung setiap getir kepahitan itu”.

Pak tua itu lalu kembali memberi nasehat;

“Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu ada di tempat itu, qalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya, jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.

 

Keduanya lalu beranjak pulang, mereka sama-sama belajar hari itu. Dan pak tua, si orang bijak itu kembali menyimpan “segenggam garam” untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.  

PENYAKIT HATI KRONIS BERNAMA “SOMBONG”

13 November 2014, 3:25 pm

Dituturkan oleh Habibah, S.Pd.I

Wakil Wali kelas II ( Dua ) MI. Al Falahiyyah

 

Sombong adalah penyakit hati yang sering menghinggapi kita semua, benih - benihnya kerap muncul tanpa kita sadari. Ditingkat pertama, Sombong disebabkan oleh faktor materi, kita merasa lebih kaya, lebih rupawan dan lebih terhormat darpada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan kita merasa lebih pintar, lebih ahli, lebih kompeten dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah dan lebih rukun dibandingkan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena kecerdasan apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena sering kali hanya berbentuk benih -benih halus didalam batin kita.

Cobalah setiap hari, kita memeriksa batin kita, pikiran kita. Kita ini manusia hanya seperti debu yang suatu saat akan hilang dan lenyap, MENINGGAL !

 

Kesombongan hanya milik Sang Pencipta Allah Azza Wa Jalla.

PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEHIDUPAN (P3K)

13 November 2014, 3:23 pm

Dituturkan oleh : Umy Abdiah, S.Pd.I

Wakil Kepala Madrasah/ Wali Kelas IV ( Empat) MI. AL Falahiyyah

 

Sediakan kotak P3K ( Pertolongan Pertama Pada Kehidupan ) dalam kehidupan kita. Didalamnya ada 7 ( Tujuh ) benda :

1.      Tusuk Gigi

Jangan suka mencongkel - congkel kejelekan orang lain, sebaiknya carilah kebaikan orang lain yang terselip yang tidak kelihatan selama ini

2.      Penghapus

Hapus semua kesalahan orang lain yang menyebabkan kita sakit hati

3.      Pensil

Tulis dalam hati, berkah rizki, anugrah Allah yang kita terima setiap hari.

4.      Plester

Semua luka hati dapat disembuhkan, selama kita mengizinkannya

5.      Karet gelang

Bersikaplah fleksibel, karena tidak semua keinginan kita dapat terwujud

6.      Permen karet

Bila kita mudah berkomitmen, lakukan semua dengan ikhlas dan selalu setia, seperti permen yang terus menempel.

7.      Permen

Berilah senyuman manis ke setiap orang yang kita jumpai, karena senyum seperti permen, semua orang pasti menyukainya.

 

 

INGAT : Waktu seperti sungai, kita tidak bisa menyentuh air yang sama untuk kedua kalinya, karena air yang telah mengalir akan terus berlalu dan tidak akan pernah kembali.

MELUDAH KE LANGIT

13 November 2014, 2:17 pm

Dituturkan oleh Umy Dra. Ariestiawaty

Wali Kelas III ( Tiga ) MI. AL Falahiyyah

 

Suatu hari seorang lelaki pemarah menemui sang kakek. Dia mendamprat kakek dengan kata - kata kasar. Sang kakek mendengarkannya dengan sabar, tenang dan tidak berkata sepatah pun.

Akhirnya lelaki itu berhenti memaki, setelah itu kakek bertanya kepadanya ”Jika seseorang memberimu sesuatu tapi kamu tidak menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu ?” lelaki itu menjawab ” Tentu saja masih menjadi milik pemberi”.

” Begitu pula dengan kata - kata kasarmu dan makianmu” timpal kakek. ” Aku tidak menerimanya, jadi itu adalah milikmu. Kamu harus menyimpannya sendiri. Aku menghawatirkan kalau nanti kamu harus menanggung akibatnya, karena kata-kata kasar dan makian hanya akan mebuahkan penderitaan. Sama seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludahnya hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri.”

 

Lelaki itu mendengarkan sang kakek dan merasa malu. Ia meminta maaf dan kemudian berpamitan.

ANAK YANG BOD*H

13 November 2014, 1:58 pm

Dituturkan oleh ; Umy Hj Sunani (Pendidik Senior MI Al-Falahiyyah)

 

Tersebutlah seorang saudagar di Pakistan dengan kekayaan yang luar biasa. Dia adalah seorang pedagang sekaligus tuan tanah. Namun orang itu memiliki seorang putera yang dianggap memiliki tingkat kecerdasan yang rendah. Sementara orang menyebutnya anak bod*h.

Suatu hari, saudagar kaya tersebut menyuruh anaknya untuk membuatkan teh untuknya. Karena kebod*hannya, anak tersebut membuat beberapa cangkir teh dan membawanya agar ayahnya dapat memilih salah satu. Sang ayah mengambil satu tegukan dari cangkir dan dengan terkejut merasakan bahwa teh itu sangat lezat. Ia meminta anaknya bercerita tentang bagaimana teh itu dibuat.

Anaknya mengatakan bahwa “Aku pergi ke halaman belakang untuk mencari kayu bakar. Tapi, karena hujan, semua kayu basah. Jadi, aku pergi ke tempat dimana ayah menyimpan uang dan mengambil banyak uang tunai. Kemudian aku membakar semua uang kertas untuk membuat teh. Teh yang awalnya terasa sangat enak, seketika itu juga terasa seperti racun.

Dari cerita ini kita umumnya akan berpikir bahwa anak itu benar-benar bod*h. mengapa? Karena dia membakar uang hanya untuk membuat secangkir teh. Kenyataannya, banyak orang yang lebih bod*h dari anak itu, yang membakar kehidupan abadi di akhirat hanya untuk hidup yang pendek di dunia ini.

 

“Yang paling bijak dari semua itu adalah orang yang mengingat kematian lebih sering dan mempersiapkan untuk itu”

KENDARAAN SEORANG BIJAK

5 November 2014, 5:58 pm

Oleh : Umy Fitriah, S.Pd.I

Matahari di padang pasir terasa membakar, Hanya sesekai angina bertiup, menerbangkan debu-debu yang memerihkan mata. Membuat seorang pemuda kerepotan mengarungi samudera pasir yang membentang luas. Namun hatinya sedikit tenang. Unta yang ditungganginya masih muda dan kuat. Ia berharap kendaraannya ini sanggup untuk menempuh perjalanan yang jauh. Karena masih ada separuh perjalanan lagi yang harus ditempuhnya.

“Mudah-mudahan aku selamat sampai ke Mekkah”, katanya penuh harap. “Dan, segera melihat Baitullah yang selama ini aku rindukan” . Panggilan rukun Islam ke lima itulah yang telah membulatkan tekadnya mengarungi padang pasir yang terik.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba pemuda itu menatap tajam kea rah seseorang yang tengah berjalan sendirian di padang pasir. “Kenapa orang itu berjalan sendiri di tempat seperti ini?” Tanya pemuda itu dalam hati. Sungguh berbahaya.

Pemuda tersebut menghentikan untanyadi dekat orang itu. Ternyata ia adalah seorang lelaki tua berjalan terseok-seok di bawah terik matahari. Lalu, pemuda itu segera turun dari untanya dan menghampiri. “wahai bapak tua, bapak mau pergi kemana?” tanyanya ingin tahu. “Insya Allah aku ingin ke Baitullah”, jawab orang tua itu dengan tenang. “Benarkah?” pemuda itu terperanjat. Apa orang tua ini sudah tidak waras? “Ke baitullah dengan berjalan kaki?”. “Betul nak, aku akan melaksanakan ibadah haji”, kata orang tua itu menyakinkan.

“Masya Allah, baitullah itu jauh sekali dari sini Pak! Bagaimana kalau bapak tersesat atau kelaparan? lagi pula, semua orang yang kesana harus naik kendaraan. Kalau tidak naik unta, bisa naik kuda. kalau berjalan kaki seperti bapak, kapan bapak sampai kesana?" p”muda itu tercenang, merasa ta’jub dengan bapak tua yang ditemuinya.

Ia yang menunggang unta dan membawa perbekalan saja, masih merasa khawatir selama dalam perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya. Siapapun tak akan sanggup menempuh perjalanan sejauh itu dengan berjalan kaki. “Apa ia tidak salah bicara? “ Atau memang orang tua itu sudah terganggu ingatannya?  Seketika “Aku juga berkendaraan”, kata bapak tua itu mengejutkan. Si pemuda yakin kalau dari kejauhan tadi, ia melihat orang tua itu berjalan sendirian tanpa kendaraan apapun tapi, bapak tua itu malah mengatakan dirinya memakai kendaraan.

Orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia merasa memakai kendaraan, padahal aku lihat ia berjalan kaki. piker si pemuda geli. “Apa bapak yakin kalau bapak memakai kendaraan? Tanya sang pemuda itu samil menahan senyum. “Kau tidak melihat kendaraanku?’ orang tua itu malah mengajukan pertanyaan yang membingungkan. Si Pemuda kini tak dapat lagi menyembunyikan kegeliannya. “Kalau begitu, apa kendaraan yang bapak pakai, ?” tanyanya sambil tersenyum?

Orang tua itu termenung beberapa saat. Pandangannyamenyapu padang pasir yang luas. Dengan sabar, si pemuda menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut orang tua itu. “Akankah ia mampu menjawab pertanyaan tadi?” “Kalau aku melewati jalan yang mudah, lurus dan datar, ku gunakan kendaraan bernama SYUKUR, jika aku melewati jalan yang sulit dan mendaki, kugunakan kendaraan bernama SABAR jawab orang orang tua itu tenang.

Si pemuda ternganga dan tak berkedip mendengar kata-kata orang tua itu. Tak sabar, sang pemuda itu ingin mendengar kalimat selanjutnya dari lelaki tua tersebut. “jika takdir menentukan dan aku tidak sampai ke tujuan, kugunakan kendaraan RIDHO, kalau aku tersesat atau menemui jalan buntu, kugunakan kendaraan TAWAKKAL, itulah kendaraanku menuju Baitullah”, kata bapak tua itu melanjutkan.

Mendengar kata-kata tersebut si pemuda merasa terpesona, seolah melihat untaian mutiara yang memancar indah, menyejukkan hati yang sedang gelisah, cemas dan gundah. Perkataan orang tua itu amat meresap ke dalam jiwa anak muda tersebut. “Maukah bapak naik kendaraanku?” kita dapat pergi ke Baitullah bersama -sama” ajak pemuda itu dengan sopan ia berharap akan mendengarkan untaian-untaian kalimat mutiara yang menyejukkan jiwa dari orang tua itu.

“Terima kasih nak, Allah sudah menyediakan kendaraan untukku. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Dengan ikut menunggang kendaraanmu, aku akan menjadi orang yang selamanya bergantung kepadamu”, sahut orang tua itu dengan bijak. seraya melanjutkan perjalannya. Ternyata orang tua itu adalah Ibrahim bin Adham, seorang ulama terkenal dengan kebijaksanaanya.

Refleksi Hikmah:

Untuk menempuh perjalanan hidup yang kita lalui ini, bukan mobil mewah yang kita butuhkan sebagai kendaraan kita, bukan pula harta melimpah yang kita butuhkan untuk bekal mengarungi kehidupan ini. Cukup hati yang lapang, yang dapat menampung segala kemungkinan keadaan. Menyediakan bahan bakar SYUKUR, SABAR, RIDHO DAN TAWAKKAL, hidup akan terasa lebih indah jika merasa bahagia.

1.      UU No: 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

2.      PP No: 19 tahun 2005 Tentang Standar Pendidikan Nasional

3.      Pedoman Penghitungan Beban Kerja Guru 24 jam (guru bersertifikasi)

4.      PP No: 37 tahun 2009 Tentang Dosen

5.      UU No: 14 tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen

6.      PP No: 74 tahun 2008 Tentang Guru

7.      PP no: 48 tahun 2008 Tentang Pendanaan Pendidikan

8.      PP No: 17 tahun 2010 Tentang Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan

9.      PERMENDIKNAS No: 28  Tahun 2010 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah

10.  PP No: 36 tahun 2007 Tentang Penyaluran Tunjangan Profesi Guru

11.  PERMENDIKNAS No: 10 Tahun 2009 Tentang Sertifikasi Guru

12.  PERMENDIKNAS No: 16 Tahun 2007 Tentang Standar Guru

13.  PERMENDIKNAS No: 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah

14.  PERMENDIKNAS No: 28 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Konselor

15.  PERMENDIKNAS No: 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi KTSP

16.  PERMENDIKNAS No: 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan

17.  PERMENDIKNAS No: 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian

18.  PERMENDIKNAS No: 24 Tahun 2007 Tentang Standar SARPRAS

19.  PERMENDIKNAS No: 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan

20.  PERMENDIKNAS No: 24 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan PERMENDIKBUD 22 – 23

21.  PERMENDIKNAS No: 24 Tahun 2006 Tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah

22.  PERMENDIKNAS No: 25 Tahun 2008 Tentang Standar Tenaga Perpustakaan Di Sekolah/Madrasah

23.  PERMENDIKNAS No: 26 Tahun 2008 Tentang Standar Tenaga Laboratorium Di Sekolah/Madrasah

24.  PERMENDIKNAS No:29 Tahun 2005 Tentang BAN – SD/MI

25.  PERMENDIKNAS No: 34 Tahun 2006 Tentang Pembinaan Anak Berprestasi

26.  Perpu – RI No : 25 Tahun 2000 Tentang Kewenangan otonomi

27.  KEPMENDIKNAS No: 129 Tahun 2004 Tentang Pelayanan Pendidikan

28.  UU No: 9 Tahun 2009 Tentang Badan Hukum Penyelenggara Pendidikan

29.  PP – RI No: 13 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas PP – RI No: 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

30.  PMA – RI No: 90 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah

31.  PMA – RI No: 29 Tahun 2014 Tentang Kepala Madrasah

32.  PMA – RI No: 2 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Madrasah

33.  KMA – RI No: 207 Tahun 2014 Tentang Kurikulum Madrasah

34.  KMA – RI No: 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi Kurikulum 2013 Di Madrasah

35.  KMA – RI No: 103 Tahun 2015 Tentang Pedoman Pemenuhan Beban Kerja Guru Madrasah Yang Bersertifikasi Pendidik

36.  Keputusan Dirjen Pendidikan Islam No: 1696 Tahun 2013 Tentang Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Anti Korupsi Di           

       Madrasah

37.  PERMENDIKBUD No: 6 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Ujian Sekolah/ Madrasah Pada Sekolah Dasar/Madrasah

       Ibtidaiyyah ;Sekolah Dasar Luar Biasa Dan Penyelenggaraan Program paket A/ULA

38.  PMA – RI No; 42 Tahun 2014 Tentang Pencabutan PMA – RI No: 2 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Dan

      Standar Isi Pendidikan Agama Islam Dan Bahasa Arab Di Madrasah

“ Madrasah is an Islamic Educational Institutions that have a long history, and finally recognized a part of the National Education System. Madrasah already managed by DEPAG/KEMENAG, with the religious sector is the problem when faced with the UU regions autonomy which neels sitates the education sector be transferred to the goverment. At the end of the progress, the school is not located under DEPAG/KEMENAG or KEMENDIKBUD, but on the school’s own creativity ”.

 

Copyright by MI Al-Falahiyyah

RASULULLAH SAW PEBISNIS ULUNG DAN JUJUR

4 November 2014, 6:38 pm

Oleh : Luthfi Aziz, S.Ag (Pustakawan MI Al-Falahiyyah)

 

Kondisi ekonomi perdagangan di abad 21 ini dalam keadaan sakit parah. hal ini ditandai dengan banyaknya praktik-praktik kotor para pebisnis, manipulasi barang & harga, kolusi pebisnis dengan penguasa, penimbunan barang dengan tujuan mendongkrak harga ke langit dan lain sebagainya. keuntungan yang seharusnya terbesar milik petani, namun dengan praktik ijin/rentenir justru petani hanya menikmati keuntungan sangat kecil.

Sesungguhnya ummat Islam sedunia telah diwariskan berbisnis beretika, jujur dan sukses. Rasulullah SAW menjadi pebisnis/pedagang sukses selama 28 tahun mulai dari usia 12 tahun sampai 40 tahun dan selebihnya adalah masa kerasulan sebagai suri tauladan bagi ummat muslim sedunia. bertolak belakang dengan tujuan bisnis saat ini yang hanya beroreintasi keuntungan/profit semata maka Rasulullah SAW sebagai entrepreneur memiliki pola piker, sikap dan tindak dalam menjalankan praktik bisnisnya sebagai berikut;

1)      Jujur. Kejujuran adalah syarat fundamental dalam berbisnis, beliau melarang membohongi konsumen sekecil apapun apalagi menguragi kadar & takaran.

2)      Haliyah. Berbisnis dilakukan dengan pengawasan Allah SWT dan sadar bahwa konsumen adalah makhluk Allah SWT yang tidak boleh dirugikan.

3)      Kebebsan individu yang bertanggung jawab, bukan bisnis paksaan atau riba yang menjerat kebebsan individu.

4)      Moral. Tanggung jawab moral kepada Allah SWT, mitra bisnis maupun konsumen.

5)      Keadilan dan keseimbangan, tujuan bisnis tidak boleh mengorbankan fungsi sosial dan fungsi-fungsi lain yang bernilai ibadah.

6)      Niat baik. Niat baik adalah asset pebisnis yang paling berharga selain menjadi tolak ukur harkat dan martabat pebisnis sendiri juga bernilai manfaat bagi mitra dan konsumen.

7)      Bertekad mewujudkan mimpi. Dari seorang pengembala berniat taraf hidupnya mennjadi pedagang lalu manajer hingga menjadi owner (pemilik perusahaan). Beliau adalah entrepreneur cerdas & clean.

8)      Branding Image. Modal utama berbisnis sesungguhnya bukanlah modal finansial, tapi kepercayaan yang berwujud pada “merek dagang” . Ingat julukan Rasulullah SAW “al-Amin” atau “Mr. Clean” . Inilah branding image Rasulullah yang utama.

Cara Merintis Bisnis :

1)      Fokus dan konsentrasi.

2)      Mempunyai goal dan rencana yang rinci dan jelas.

3)      Merintis dan memulai dari nol tanpa KKN.

4)      Ulet dan tidak mudah putus asa. Rasulullah bersabda “Jangalah kamu berdua putus asa dari rizki Allah SWT selama kepalamu masih bergerak, karena manusia dilahirkan ibunya dalam keadaan merah tanpa baju, kemudian Allah berikan rizki kepadanya” (HR. ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya).

5)      Berusaha mengikuti trend center.

6)      Inovatif. Semua barang yang dijual Rasulullah SAW selalu berbeda dari kompetitornya dengan harga bersaing namun (hight quality).

7)      Memahami kondisi dan selalu menganalisa pasar.

8)      Kemampuan merespon strategi kompetitornya.

9)      Belajar menguasai gejolak pasar. Dikisahkan ketika beliau di Mekkah para pedagang kamu Quraisy ingin menghancurkan bisnis beliau, mereka menjual barang-barang mereka dibawah harga pasar. beliau menerapkan hukum supply & demand, beliau menyiasati dan bersabar. siasat barang dagangan pedagang Quraisy  habis, beliau baru menjual barangnya dengan harga normal karena beliau menyelidiki kalau demand jauh lebih tinggi dari supply. Itulah kejelian melihat, menganalis, dan memahami pasar, hingga akhirnya menguasai pasar yang ada.

10)  Menguasai manajemen pemasaran secara efektif.

11)  Menghilangkan mental blocking yakni ketakutan yang berlebihan dalam menghadapi kegagalan usaha. Rasulullah SAW dapat mengalahkan diri sendiri dari hal-hal negatif (mujahadah).

12)  Mampu menarik dan menyakinkan pemilik modal untuk ikut serat dalam bisnis yang dijalankannya.

 

Cara Menjalankan Bisnis :

 

1)      Bekerja sama (bersinergi) Beliau bersabda “Keberkahan sesungguhnya berada dalam jama;ah dan tangan Allah sesungguhnya bersama jama’ah”

2)      Kerja cerdas, kreatif dan vsioner.

3)      Menerapkan kesepakatan win-win solution.

4)      bekerja dengan skala proritas.

5)      Tidak melakukan monopoli.

6)      Selalu berusaha dan tawakkal.

7)      Tepat waktu.

8)      Berani ambil resiko.

9)      Tidak menumbun barang (ihtikar). Beliau bersabda “Pedagang yang mau menjual barang dagangannya dengan spontan akan diberi kemudahan, tetapi penjual yang sering menimbun dagangannya akan mendapat kesusahan” (HR. Ibnu Majah dan Thusiy)

10)  Profesional pada bisnis yang dikelolanya.

11)  Selalu bersyukur dalam segala kondisi.

12)  Berusaha mandiri, ulet dan tawakkal.

13)  Menjaga martabat harga diri, kehormatan dan kemuliaan dalam proses interaksi bisnisnya.

14)  Melakukan bisnis berdasarkan cinta kasih (passion).

15)  Tidak menzalimi (merugikan) orang lain .

16)  Rajin bersedekah.

Cara Memasarkan Produk :

1)      Memasarkan produk halal dan suci.

2)      Tidak melakukan sumpah palsu.

3)      Tidak berpura-pura menawar dengan harga tinggi agar orang tidak tertarik.

4)      Melakukan timbangan dengan benar.

5)      Tidak menjelekkan dagangan orang lain. Beliau bersabda; “Janganlah seseorang diantar kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual orang lain” (Muttafaqa Alaih).

6)      Pintar berpromosi.

7)      Transparansi (keterbukaan). Beliau bersabda; “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satupun dagangannya yang mempunyai cacat, sebelum dia menjelaskan cacatnya” (HR. Al-Quziraini)

8)      Mengutamakan Pelanggan (customer satisfaction).

9)      Memiliki networking.

10)  Tidak mengambil untung yang berlebihan.

11)  Mengutamakan penawar pertama.

12)  Menawar dengan harga yang diinginkan.

13)  Melakukan perniagaan sepagi mungkin. Rasulullah SAW mendo’akan orang yang sepagi mungkin dalam bekerja. “Ya Allah, berkahilah ummatku dalam berpagi-paginya mereka”.

14)  Menjaga kepercayaan pelanggan.

15)  Mewujudkan win-win solution.

16)  Barang dagangan harus bermutu, murah, bermanfaat, mutakhir dan berkualitas.

17)  Kemudahan dalam hal transaksi dan pelayanan.

18)  Menentukan harga dengan jelas ketika akad (deal)

       Hidup dengan berorientasi akhirat atau bekerja untuk ibadah akan menumbuhkan motivasi berprestasi dan menghindarkan diri dari berbuat kerusakan dalam lingkungan kerja seperti melanggar kode etik, tata tertib, aturan dan merusak nama baik institusi.

Demikian semoga kita menjadi pribadi muslim yang senantiasa melakukan perbaikan diri.

Kenapa Orang Asia Minim Kreatif Daripada Orang Barat?

2 November 2014, 11:55 am

Oleh : Eka Fadhil Ibrahim

Sebagai pendidik tentu kita selalu didorong untuk bekerja dan berpikir kreatif, tak salah karena kualitas keilmuan, pengetahuan serta wawasan peserta didik sebagian besar tergantung bagaimana pendidik. Menurut KBBI makna kreatif adalah  memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan.

Kreativitas menurut Cronbach (1984; Richard dkk., 1999: 247) adalah “the ability to see something in a new way”. Kreatifitas adalah sesuatu kemampuan yang dapat melihat sesuatu menjadi hal baru. Dalam bukunya berjudul “Mengembangkan Kreativitas dalam Perspektif Psikologi Islami,” Nashori & Mucharram (2002: 33-34) sendiri mengatakan kreativitas adalah hasil karya atau ide-ide baru yang sebelumnya tidak dikenal oleh pembuatnya maupun orang lain dan boleh jadi bukan merupakan hasil sebuah produk tapi kreativitas adalah suatu anugerah yang dilimpahkan oleh Yang Maha Pandai (al ‘Alim) Allah Azza wa jalla kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Orang yang kreatif memiliki kebebasan berpikir dan bertindak, yang, merupakan perpaduan antara daya cipta, pemikiran, imajinasi, dan perasaan-perasaan yang memuaskan.

 Mungkin kita kenal Mark Zuckerberg Pendiri Facebook, lalu Jack Dorsey pencipta Twitter, Jan Koum Pengagas Whatsapp, bahkan Fredrik Idestam Pendiri perusahaan Nokia Corporation. Jika menelisik beberapa abad mundur kita tentu tahu penemu lampu adalah Thomas Alfa Edison atau Wright bersaudara yang pertama kali menerbangkan pesawat. Bukan tidak ada orang Asia yang juga turut andil dalam proses kreatif dan mampu berbicara banyak di dunia, namun dibandingkan dengan Orang Barat tentu betapa jauh kreatif orang Asia bagai bumi dan langit.

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland dalam bukunya “ Why Asians Are Less Creative Than Westerns” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller” mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran khalayak banyak manusia.

1.      Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka ukuran hidup sukses dalam mengarungi kehidupan adalah banyaknya materi yang dimiliki seperti memiliki rumah mewah, mobil mahal, uang berlimpah dan harta/materi lainnya. Passion (rasa cinta pada sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seseorang untuk meraih kekayaan berlimpah dan seketika mendapatkan prediket “orang sukses”

2.      Bagi orang Asia, Banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada Cara memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceria, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin yang mendadak kaya karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenisnya itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditelorir/diterima sebagai sesuatu yang wajar, bahkan telah menjadi satu dari hal yang lumrah.

3.      Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian/pemahaman. Ujian Nasional, tes masuk Perguruan Tinggi dll hampir seluruhnya berbasis hafalan. Sampai tingkat tertinggi (sarjana) mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4.      Karena berbasis hafalan, peserta didik baik tingkat sekolah menengah bahkan mahasiswa di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik untuk menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit-sedikit tentang banyak ha; tetapi tidak menguasai bidang apapun).

5.      Lantaran berbasis hafalan tersebut, tak heran jika banyak pelajar Asia mampu menyabet juara gelar dalam Olimpiade Fisika dan Matematika. Namun hampir tidak ada orang Asia yang meraih dan memenangkan Nobel atau penghargaan Internasional lainnya yang berbasisi inovasi dan kreatifitas.

6.      Orang Asia takut salah dan juga takut kalah yang berujung daya serta sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

7.      Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya hasrat penasaran  dan keingintahuan tidak mendapatkan tempat dalam proses pendidikan di sekolah .

8.      Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di berbagai lembaga pendidikan baik tingkat sekolah maupun universitas dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumun narasumber untuk meminta penjelasan tambahan.

 

Dalam bukunya  Prof. Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut :

1.      Hargai proses. Dengan menghargai proses bermakna sadar untuk menghargai orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.

2.      Hentikan proses pendidikan berbasis kunci jawaban. Dan iarkan peserta didik memahami bidang yang paling disukainya.

3.      Jangan memaksa murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau untuk jawaban X dan Y harus dihafalkan? Biarkan peserta didik memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar menguasainya.

4.      Biarkan anak memilih profesi berdasarkan passion (rasa cinta)nya pada bidang tertentu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

5.      Dasar sebuah kreatifitas adalah rasa penasaran yang tinggi dan keingintahuan nan dalam, maka beranilah mengambil resiko. Ayo Bertanya!.

6.      Pendidik adalah fasilitator, bukan dewa yang tahu akan segalanya. Mari akui dengan bangga kalau Kita Tidak Tahu.

7.      Passion manusia adalah anugerah Tuhan. Sebagai orang tua kita tentu mengembang tanggung jawab untuk mengarahkan anak-anak untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak- anak dan cucu serta peserta didik yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas, bermoral baik dan memiliki idealisme tinggi. Tetap belajar, menggali diri dan terus mengeksplorasi serta intropeksi diri untuk terus berkembang menjadi pendidik nan kreatif.

 

Sumber :

- harisberbagi.blogspot.com

- idearesort.com.

- wikipedia

Bersin Dan Menguap

2 November 2014, 10:55 am

Oleh : Hj Sunani (Pendidik Senior MI Al-Falahiyyah)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh Allah mencintai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap, maka jika kalian bersin maka pujilah Allah dan setiap ang mendengarkan pujian Allah itu untuk menjawabnya : adapun menguap, maka itu dari syaitan, maka lawanlah sekuat tenagamu. Dan apabila seseorang menguap dan terdengar bunyi; Aaaa, maka syaitan pun tertawa karenanya”. (Shahih Bukhari 6223)

Imam Ibnu Haja, berkata, “Imam Al-Khathabi mengatakan bahwa makna cinta dan benci pada hadist di atas dikembalikan kepada sebab yang termaktub dalam hadist itu. Yaitu bahwa bersin terjadi karena badan yang kering dan pori-pori kulit terbuka, dan tidak tercapainya rasa kenyang, ini berbeda dengan orang yang menguap. Menguap terjadi karena badan kekenyangan dan badan terasa berat untuk beraktivitas, hal ini karena banyaknya makan, bersin bisa menggerakkan orang untuk beribadah, sedangkan menguap menjadikan orang malas (Fath-hul Baari : 10/6077). Nabi menjelaskan bagaimana seseorang yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah dengan membalas pujian tersebut. Rasulullah SAW bersabda; “ apabila salah seorang diantara kalian bersin, maka ucapkanlah “Al-Hamdulillah” dam hendaklah orang yang mendengarnya menjawab dengan “Yarhamu Kallahu” dan bila dijawan demikian , maka balaslah dengan ucapan “yahdikumullahu wa yuslihuu baalakum” (HR. Bukhari, 6224)

Para dokter di jaman sekarang mengatakan “menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi, dank arena organ pernapasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh. Hal ini terjadi ketika kita sedang ngantuk atau pusing, lesu dan sedang mengfhadapi kematiannya. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut, dan bukan hidung dengan cara biasa menarik napas dalam-dalam. Mulut bukanlah organ yang diciptakan untuk jalan pernapasan, karena tidak ada filter (bulu), lender dan suhu hangat untuk mencegah masuknya berbagai jenis mikroba dan debu yang berterbangan di udara.

Oleh sebab itu Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk melawan sekuat tenaga “menguap” atau segera menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau punggung tangan kiri. Bersin adalah lawan dari menguap yaitu keluarnya udara dengan keras/kuat dari badan dan bersamaan dengan bersin itu akan terkuras dari badan seperti debu, haba-haba (sesuatu yang sangat kecil di udara yang hanya terlihat ketika ada sinar matahari) atau kutu dan mikroba yang terkandung masuk dalam organ pernapasan. Oleh karena itu secara tabi’at bersin itu datangnya dari Yang Maha Rahim, sebab padanya terdapat manfaat yang besar bagi tubuh. Sedangkan menguap datangnya dari syaitan sebab ia mendatangkan bahaya bagi tubuh .

Dan setiap orang hendaklah memuji Allah SWT yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Ketika dia bersin dan meminta perlindungan Nya dari godaan syaitan yang terkutuk ketika sedang menguap (lihat Al-Haqa’ah Al-Tarbiyah fii Al-Islam hal 155).