Garam Dan Telaga

13 November 2014, 3:31 pm Written by 
Published in Kisah Inspiratif
Read 1390 times Last modified on Kamis, 19 November 2015 17:40

 

Oleh : Umy Dahliah, S.Pd.I (Wali Kelas II MI Al-Falahiyyah)

 

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi datanglah seorang anak muda yang sedang dirudung masalah. Langkahnya gontai dan raut mukanya lusuh. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tidak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya”, ujar pak tua itu.

“Pahit, pahit sekali”, jawab sang tamu sambil meludah ke samping.

Pak tua sedikit tersenyum, ia lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak tua lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang mengaduk aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan air telaga itu“Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai meneguk air itu, pak tua berkata lagi.

“Bagaimana rasanya?”.

“Segar” sahut tamunya.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” Tanya pak tua.

“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda, ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di tepi telaga itu.

“Anak Muda dengarlah “ ucapnya.

“Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang, jumlah      dan rasa pahit itu adalah sama dan memang akan tetap sama. Tapi kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki, kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati/qalbu kita, jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu, luaskanlah hatimu dalam menerima semuanya untuk menampung setiap getir kepahitan itu”.

Pak tua itu lalu kembali memberi nasehat;

“Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu ada di tempat itu, qalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya, jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.

 

Keduanya lalu beranjak pulang, mereka sama-sama belajar hari itu. Dan pak tua, si orang bijak itu kembali menyimpan “segenggam garam” untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.  

Rate this item
(2 votes)

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.