Oleh : Umy Fitriah, S.Pd.I
Matahari di padang pasir terasa membakar, Hanya sesekai angina bertiup, menerbangkan debu-debu yang memerihkan mata. Membuat seorang pemuda kerepotan mengarungi samudera pasir yang membentang luas. Namun hatinya sedikit tenang. Unta yang ditungganginya masih muda dan kuat. Ia berharap kendaraannya ini sanggup untuk menempuh perjalanan yang jauh. Karena masih ada separuh perjalanan lagi yang harus ditempuhnya.
“Mudah-mudahan aku selamat sampai ke Mekkah”, katanya penuh harap. “Dan, segera melihat Baitullah yang selama ini aku rindukan” . Panggilan rukun Islam ke lima itulah yang telah membulatkan tekadnya mengarungi padang pasir yang terik.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba pemuda itu menatap tajam kea rah seseorang yang tengah berjalan sendirian di padang pasir. “Kenapa orang itu berjalan sendiri di tempat seperti ini?” Tanya pemuda itu dalam hati. Sungguh berbahaya.
Pemuda tersebut menghentikan untanyadi dekat orang itu. Ternyata ia adalah seorang lelaki tua berjalan terseok-seok di bawah terik matahari. Lalu, pemuda itu segera turun dari untanya dan menghampiri. “wahai bapak tua, bapak mau pergi kemana?” tanyanya ingin tahu. “Insya Allah aku ingin ke Baitullah”, jawab orang tua itu dengan tenang. “Benarkah?” pemuda itu terperanjat. Apa orang tua ini sudah tidak waras? “Ke baitullah dengan berjalan kaki?”. “Betul nak, aku akan melaksanakan ibadah haji”, kata orang tua itu menyakinkan.
“Masya Allah, baitullah itu jauh sekali dari sini Pak! Bagaimana kalau bapak tersesat atau kelaparan? lagi pula, semua orang yang kesana harus naik kendaraan. Kalau tidak naik unta, bisa naik kuda. kalau berjalan kaki seperti bapak, kapan bapak sampai kesana?" p”muda itu tercenang, merasa ta’jub dengan bapak tua yang ditemuinya.
Ia yang menunggang unta dan membawa perbekalan saja, masih merasa khawatir selama dalam perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya. Siapapun tak akan sanggup menempuh perjalanan sejauh itu dengan berjalan kaki. “Apa ia tidak salah bicara? “ Atau memang orang tua itu sudah terganggu ingatannya? Seketika “Aku juga berkendaraan”, kata bapak tua itu mengejutkan. Si pemuda yakin kalau dari kejauhan tadi, ia melihat orang tua itu berjalan sendirian tanpa kendaraan apapun tapi, bapak tua itu malah mengatakan dirinya memakai kendaraan.
Orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia merasa memakai kendaraan, padahal aku lihat ia berjalan kaki. piker si pemuda geli. “Apa bapak yakin kalau bapak memakai kendaraan? Tanya sang pemuda itu samil menahan senyum. “Kau tidak melihat kendaraanku?’ orang tua itu malah mengajukan pertanyaan yang membingungkan. Si Pemuda kini tak dapat lagi menyembunyikan kegeliannya. “Kalau begitu, apa kendaraan yang bapak pakai, ?” tanyanya sambil tersenyum?
Orang tua itu termenung beberapa saat. Pandangannyamenyapu padang pasir yang luas. Dengan sabar, si pemuda menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut orang tua itu. “Akankah ia mampu menjawab pertanyaan tadi?” “Kalau aku melewati jalan yang mudah, lurus dan datar, ku gunakan kendaraan bernama SYUKUR, jika aku melewati jalan yang sulit dan mendaki, kugunakan kendaraan bernama SABAR jawab orang orang tua itu tenang.
Si pemuda ternganga dan tak berkedip mendengar kata-kata orang tua itu. Tak sabar, sang pemuda itu ingin mendengar kalimat selanjutnya dari lelaki tua tersebut. “jika takdir menentukan dan aku tidak sampai ke tujuan, kugunakan kendaraan RIDHO, kalau aku tersesat atau menemui jalan buntu, kugunakan kendaraan TAWAKKAL, itulah kendaraanku menuju Baitullah”, kata bapak tua itu melanjutkan.
Mendengar kata-kata tersebut si pemuda merasa terpesona, seolah melihat untaian mutiara yang memancar indah, menyejukkan hati yang sedang gelisah, cemas dan gundah. Perkataan orang tua itu amat meresap ke dalam jiwa anak muda tersebut. “Maukah bapak naik kendaraanku?” kita dapat pergi ke Baitullah bersama -sama” ajak pemuda itu dengan sopan ia berharap akan mendengarkan untaian-untaian kalimat mutiara yang menyejukkan jiwa dari orang tua itu.
“Terima kasih nak, Allah sudah menyediakan kendaraan untukku. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Dengan ikut menunggang kendaraanmu, aku akan menjadi orang yang selamanya bergantung kepadamu”, sahut orang tua itu dengan bijak. seraya melanjutkan perjalannya. Ternyata orang tua itu adalah Ibrahim bin Adham, seorang ulama terkenal dengan kebijaksanaanya.
Refleksi Hikmah:
Untuk menempuh perjalanan hidup yang kita lalui ini, bukan mobil mewah yang kita butuhkan sebagai kendaraan kita, bukan pula harta melimpah yang kita butuhkan untuk bekal mengarungi kehidupan ini. Cukup hati yang lapang, yang dapat menampung segala kemungkinan keadaan. Menyediakan bahan bakar SYUKUR, SABAR, RIDHO DAN TAWAKKAL, hidup akan terasa lebih indah jika merasa bahagia.