C. Pendahuluan
Belajar merupakan kewajiban untuk setiap pribadi muslim dan muslimah sebagaimana firman Allah SWT dalam ayat yang pertama kali diturunkan QS.Al-alaq ayat 1-5, dan juga sabda Rasulullah yang artinya “menutut ilmu wajib bagi setiap muslim” oleh karena itu mau tidak mau kita harus belajar dan selalu belajar.
Mata pelajaran Fiqih sangat berhubungan erat dengan dunia nyata siswa, misalnya thaharah, shalat, zakat, haji dan umrah, jual beli, warisan dan lain-lain. Untuk itu seorang guru harus kreatif dalam menyampaikan materi pelajaran, menciptakan kondisi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, sehingga siswa merasa tertarik dan mampu memahami materi yang disampaikan oleh guru secara maksimal. Kerangka berpikir di atas menggambarkan bahwa mata pelajaran Fiqih merupakan mata pelajaran yang penting untuk diajarkan kepada siswa sebagai ilmu yang diamalkan dalam beribadah kepada Allah dengan kesadaran dan tanggung jawab sebagai hamba Allah SWT. .
D. Perumusan dan Pemecahan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang akan disajikan dalam penelitian ini adalah bagaimana upaya yang dilakukan oleh guru agama dalam mengatasi kesulitan belajar siswa MI. Al Falahiyyah Kebayoran Baru pada pelajaran Fiqih ?.
E. Tujuan Penelitian
Untuk Mengungkap upaya yang dilakukan oleh guru mata pelajaran Fiqih dalam membantu menangani atau mengatasi kesulitan belajar siswa MI. Al Falahiyyah Kebayoran Baru.
F. Manfaat Hasil Penelitian
sebuah. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan tentang upaya-upaya yang dilakukan oleh guru dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Selain itu juga dapat digunakan sebagai rujukan penelitian pada masa berikutnya.
b. Manfaat Praktis
Secara praktis karya ilmiah ini dapat digunakan sebagai rujukan bagi pendidik dalam melaksanakan , sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di MI. Al Falahiyyah Kebayoran Baru.
G. Kajian Pustaka
1. Pengertian Belajar
Dalam Kamus Besar Indonesia kesulitan adalah “ keadaan yang sulit , sesuatu yang sulit atau kesukaran. Sedangkan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interasi dengan lingkungannya.
Kesulitan belajar merupakan suatu hal yang dialami oleh sebagian siswa di sekolah. Kesulitan belajar atau learning dissabilty yang biasa juga disebut dengan istilah learning disorder adalah suatu kendala yang membuat individu yang bersangkutan merasa sulit dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah keadaan atau sesuatu yang membuat sulit atau sukar sewaktu siswa melakukan kegiatan belajar.
2. Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu internal dan eksternal. Penyebab utama kesulitan belajar adalah faktor internal, yaitu kemungkinan adanya disfungsi neurologis, sedangkan penyebab utama problema belajar adalah faktor eksternal, yaitu berupa strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak.dan pemberian ulangan yang tidak tepat. Disfungsi neurologis sering tidak hanya menyebabkan kesulitan belajar tapi juga menyebabkan gangguan emosional.
Berbagai faktor yang dapat menyebabkan disfungsi nerulogis yang pada akhirnya menyebabkan kesulitan dalam belajar.
a. Faktor Internal
Faktor penyebab kesulitan belajar yang bersumber dari luar diri siswa, antara lain:
1) Adanya kelemahan dari segi fisik seperti kelemahan pada panca indera. (mata, telinga, yang tidak sempurna).
2) Adanya kelemahan kelemahan secara mental, seperti: tingkat kecerdasan lemah, kurang minat, kurang semangat dan kurang usaha.
3) Adanya sikap kebiasaan yang salah, seperti: sering bolos dan malas.
4) Tidak mempunyai keterampilan dasar, seperti: kurang mengetahui pengetahuan dasar untuk bidang study yang ditempuh.
b. Faktor Eksternal
Faktor penyebab kesulitan belajar yang bersumber dari luar diri siswa, antara lain:
1) Lingkungan keluarga contohnya, ketidak harmonisan antara bapak dan ibu atau rendahnya kehidupan ekonomi.
2) Kurikulum, bahan, sumber buku yang tidak yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan siswa dan perbedaan individu
3) Terlalu berat beban belajar siswa
4) Terlalu besar populasi siswa dalam kelas
5) Terlalu banyak kegiatan diluar jam sekolah.
3. Jenis Kesulitan Dalam Belajar
Setiap murid mempunyai bakat yang berbeda-beda, dan bakat mempunyai pengaruh yang besar terhadap prestasi belajar. Siswa yang berkurang berbakat dalam suatu pelajaran tertentu tentu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menguasai suatu bahan, dibanding siswa yang berbakat dalam mata pelajaran tersebut.
Bila ditelusuri akan terdapat sejumlah siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Ada beberapa jenis kesulitan dalam belajar secara umum:
a. Sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan akan hampir mencapainya. Siswa tersebut mendapat kesulitan dalam memantapkan penguasaan bagian-bagian yang sukar dari seluruh bahan yang harus dipelajari. Kesulitan dapat diatasi dengan membaca kembali materi atau mempelajari penjelasan-penjelasan khusus dari buku teks.
b. Sekelompok siswa yang belum dapat mencapai tingkat ketuntasan yang diharapkan karena ada konsep dasar yang belum dikuasai. Jenis kesulitan yang dihadapi siswa semacam ini tidak dapat diatasi dengan cara mengulang bahan yang sama tapi harus dicarikan alternaif kegiatan lain yang berbeda yang mengarah pada tujuan instruksional dan tujuan yang sama. Dengan cara seperti ini serta bantuan dari guru diharapkan kesulitan murid dapat diatasi.
c. Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami siswa, karena secara konseptual tidak menguasai bahan yang dipelajari secara menyeluruh, tingkat penguasaan bahan sangat rendah, konsep=konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sukar tidak dipahami, mungkin juga bagian-bagian yang sedang atau mudah tidak dapat dikuasai dengan baik. Untuk jenis kesulitan semacam yang dialami siswa seperti ini, perlu bimbingan dan penanganan secara khusus dan bersifat individual.
4. Upaya dalam Mengatasi Kesulitan Belajar
a. Diagnosis Kesulitan Belajar
Muhibbin syah dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan menjelaskan ada beberapa langkah yang dapat dilakukan seorang guru untuk mendiagnosa kesulitan belajar siswa antra lain.
1) Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
2) Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
3) Mewawancarai wali siswa untuk mengetahui keadaan keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
4) Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetauhi hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
5) Memberikan tes kemampuan intelgensi (IQ ) khususnya pada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
b. Pemecahan Kesulitan Belajar siswa
Menurut Muhibbin syah ada beberapa langkah penting dalam mengatasi kesulitan belajar siswa antra lain:
1) Menganalisis kesulitan belajar siswa berdasarkan hasil diagnosis.
2) Mengedintifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
3) Menyusun program perbaikan, khususnya program remidial reaching
4) Melaksanakan program remedial teaching.
5. Mata Pelajaran Fiqih
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Fikih (bahasa Arab: فقه, translit. fiqh) adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Allah, Tuhannya.[1] Beberapa ulama fikih seperti Imam Abu Hanifah mendefinisikan fikih sebagai pengetahuan seorang muslim tentang kewajiban dan haknya sebagai hamba Allah.[2]
Fikih membahas tentang cara beribadah dan muamalah, sesuai yang tersurat dalam Al-Qur'an dan Sunnah.
H. METODELOGI PENELITIAN
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Karya tulis ilmiah ini menggunakan penelitin kualitatif. Penelitian kualitatif sifatnya deskriftif, karena data yang dianalisis tidak digunakan untuk menolak atau menerima hipotesis, melainkan hasil deskripsi dari gejala-gejala yang dianalisis yang diamati, yang tidak selalu berbentuk angka-angka atau kofisien antar variabel. Pada penelitian ini, peneliti akan melakukan penelitian dilapangan sehingga ini juga merupakan penelitian lapangan.Sedangkan dalam pendekatan penelitian, peneliti menggunakan pendekatan dekriptif kualitatif dengan metode studi kasus.
I. Tempat dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di MI. Al Falahiyyah Kebayoran Baru. Subyek dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran fiqih di MI. Al Falahiyah Kebayoran Baru..