Pendahuluan
Kemajuan budaya dan teknologi yang sangat pesat di era globalisasi ini telah membuat generasi muda lupa akan perannya dalam menjaga dan memajukan negeri. Hal ini membuat masyarakat Indonesia, terutama generasi terdahulu seperti orang tua, paman, dan guru kita menjadi miris melihat sikap generasi muda sekarang ini. Padahal, para pejuang bangsa terdahulu sudah mengorbankan jiwa dan raganya demi menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa Indonesia. Namun, malah dihancurkan oleh para pemuda dengan perilaku-perilakunya yang seenaknya, tanpa rasa malu, dan tentunya menyimpang dari pancasila. Rasanya urat malu para pemuda kini sudah putus. Mereka merasa bahwa kehidupan ini penuh dengan kebebasan dan berjalan gitu saja tanpa ada alat control dan pengawasan.
Beberapa perilaku menyimpang yang cukup sering dilakukan oleh pemuda di Indonesia seperti tawuran, seks bebas, narkoba, minuman keras dan sebagainya. Hal tersebut seolah-olah sudah menjadi gaya hidup pemuda sekarang ini. Memang perilaku-perilaku diatas merupakan sesuatu yang umum di luar negeri. Namun, karena begitu cepatnya segala informasi yang kita dapat dari internet, budaya-budaya yang menyimpang tersebut langsung dicerna oleh pemuda di Indonesia tanpa memikirkan efeknya akan seperti apa di kemudian hari. Selain itu, lebih parahnya lagi, perilaku menyimpang di atas bukan hanya terjadi di kalangan pemuda seperti mahasiswa dan anak SMA. Adik-adik dari SMP bahkan anak SD pun sudah tidak terhitung beberapa kejadian dan berapa banyak yang telah melakukannya. Tentu hal ini sudah sangat melampaui batas dan sangat disayangkan bagi mereka yang seharusnya belajar sungguh-sungguh dan raih prestasi sebanyak-banyaknya, malah ikut terpengaruh dengan hal buruk seperti ini.
Selain perilaku menyimpang diatas, ada hal yang juga sangat sering pemuda jumpai dalam circle pertemanan, yaitu sifat hedonisme dan materialisme. Siapa dan bagaimana sifat dan karakter orang-orang di dalam lingkaran pertemanan mereka, ditambah lagi di era globalisasi ini, sifat materialisme makin berkembang dan membuat hedonism materialism dijadikan patokan dalam mencari pertemanan. Mereka yang memiliki paham seperti ini lebih mengedepankan gengsi, sehingga cenderung melihat seseorang hanya dari sisi hartanya saja. Hal-hal seperti ini tak bisa dianggap remeh, karena dapat merusak moral generasi penerus bangsa, yang mana jika salah satu dari mereka termakan gengsi, dia akan melakukan segala cara hanya agar tidak dianggap rendah dalam circle pertemanannya. Begitu juga dengan sifat hedonisme, para pelajar sekarang ini sudah menjadikan sifat ini sebagai orientasi kehidupan mereka. Tujuan mereka sekarang hanya memikirkan kesenangan, kemewahan, dan terus menciptakan kebiasaan buruk. Bahkan beberapa dari mereka rela menghilangkan kehormatannya hanya demi mempunyai barang mewah dan kesenangan semata. Jika hal-hal seperti ini terus berlanjut bahkan menjadi doktrin, maka terkikislah tujuan bangsa yang seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa, malah merusak kehidupan bangsa. Situasi seperti ini tidak menutup kemungkinan akan mengancam juga pada anak-anak usia SD atau MI kelas III. Kemudahan akses informasi yang sangat luar biasa, menjadi salah satu faktor penyebabnya.
Ini merupakan masalah krisis moral bagi bangsa Indonesia. Krisis moral generasi muda harus diatasi sesegera mungkin, jangan sampai hal ini dianggap sepele. Jika tidak segera diatasi, hal ini akan mengancam keutuhan NKRI dan dapat mempengaruhi anak-anak kecil yang sekarang ini banyak mengikuti kebiasaan remaja. Bagaimana Negara ini akan maju jika generasi mudanya seperti itu. Ada banyak faktor yang mempengaruhi krisis moral pemuda yang terjadi saat ini. Seperti kurangnya pembinaan moral sejak dini dari orang tua, pendekatan terhadap nilai agama yang kurang, lingkungan sekolah, pertemanan, keluarga dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, semua komponen negara baik pemerintah maupun masyarakat harus ikut berperan aktif dalam mengatasi masalah ini.
Namun sebenarnya, Islam mengajarkan bahwa seharusnya moral (atau adab) menjadi landasan pertama bagi setiap anak didik dalam menuntut ilmu. Para ulama lebih menekankan pembentukan adab (moral) terlebih dahulu sebelum para santri mempelajari berbagai cabang ilmu.
Ketahuilah bahwa ulama salaf sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,
بالأدب تفهم العلم
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
Guru penulis, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”
Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya.
Ibnul Mubarok berkata,
تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين
“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Ibnu Sirin berkata,
كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم
“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”
Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok,
نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث
“Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.
Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,
ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه
“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” –
Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,
تعلم من أدبه قبل علمه
“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”
Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini. Imam Abu Hanifah berkata,
الْحِكَايَاتُ عَنْ الْعُلَمَاءِ وَمُجَالَسَتِهِمْ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ الْفِقْهِ لِأَنَّهَا آدَابُ الْقَوْمِ وَأَخْلَاقُهُمْ
“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Al Madkhol, 1: 164)
Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,
من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه
“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).
Yang kita saksikan di tengah-tengah kita, “Talk more, do less (banyak bicara, sedikit amalan)”.
Para ulama tersebut melakukan hal yang demikian disebabkan pemahaman bahwa pendidikan itu tidak semata-mata proses transfer ilmu. Pendidikan bertujuan tak hanya untuk membentuk manusia yang cerdas otaknya dan terampil dalam melaksanakan tugas, namun diharapkan menghasilkan manusia yang memiliki moral, sehingga menghasilkan negara yang unggul. Maka dari itu, pendidikan juga mentransfer nilai-nilai moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.
Dengan transfer moral yang bersifat universal, diharapkan peserta didik dapat menghargai kehidupan orang lain tercermin dalam tingkah laku serta aktualisasi diri sejak dini sehingga saat tumbuh dewasa dapat menjadi warga negara yang baik. Meskipun pendidikan moral bukan hal baru di Indonesia, namun masih sedikit orang yang memahami pengertian dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Moral
Pendidikan moral adalah usaha sadar tentang mengajarkan nilai kebaikan meliputi perilaku baik sesuai dengan aturan normatif dan juga tentang sikap dan tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Baik sebagai makhluk individu seperti jujur, dapat dipercaya, adil, bertanggungjawab dan lain-lain.
Maupun sebagai makhluk sosial dalam hubungannya dengan masyarakat, seperti kejujuran, penghormatan sesama manusia, tanggung jawab, kerukunan, kesetiakawanan, solidaritas sosial dan sebagainya yang terkemas dalam citra kebaikan.
Selain itu, pendidikan moral adalah suatu aktivitas yang harus dilatih dan mungkin dipaksakan bagi setiap orang sejak dini untuk menjadikan anak yang baik dan mempunyai tingkat kesadaran moralitas yang tinggi dalam mewujudkan tujuan-tujuan sosial. Di samping bersifat sosial pendidikan moral juga haruslah bersifat rasional.
Secara kultural pendidikan moral memerlukan perjuangan yang panjang. Perjuangan membangun mentalitas bangsa yang berbasis nilai-nilai moral melalui penghormatan kepada orang tua dan bersumber dari nilai moral, harus diawali dari individu yang mengutamakan kehidupan, menjunjung nilai-nilai moral, disemaikan dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat luas.
Dalam menyosialisasikan nilai-nilai moral diperlukan guru, pejuang moral yang tidak pernah gentar, putus asa atau frustasi meskipun rintangan, halangan, lingkungan tidak kondusif, dan harus berhadapan dengan keadaan distruktif. Dengan tidak jemu-jemunya meneriakkan sosialisasi pendidikan moral adalah untuk mewujudkan nilai moral secara universal yang menghargai orang lain.
Tujuan Pendidikan Moral
Selanjutnya, setelah mengetahui pendidikan moral adalah upaya memanusiakan manusia, kamu juga perlu tahu mengenai tujuannya untuk masyarakat terutama bagi mereka yang masih berusia anak-anak.
Adapun tujuan pendidikan moral bagi anak-anak adalah sebagai berikut :
1. Anak mampu memahami nilai-nilai budi pekerti di lingkungan keluarga, lokal, nasional, dan internasional melalui adat istiadat, hukum, undang-undang, dan tatanan antar bangsa.
2. Anak mampu mengembangkan watak atau tabiatnya secara konsisten dalam mengambil keputusan budi pekerti di tengah-tengah rumitnya kehidupan bermasyarakat saat ini.
3. Anak mampu menghadapi masalah nyata dalam masyarakat secara rasional bagi pengambilan keputusan yang terbaik setelah melakukan pertimbangan sesuai dengan norma budi pekerti.
4. Anak mampu menggunakan pengalaman budi pekerti yang baik bagi pembentukan kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan bertanggung jawab.
Analisis Sebab
Untuk mnguraikan dan mengatasi permasalahan moral yang terus merosot pada generasi muda negeri ini, perlu dilakukan analisis penyebab. Dengan menggunakan alat analisis fish bone, kita akan sedikit mengetahui apa saja yang menyadi penyebab utama akan maraknya kemerosotan moral anak-anak muda kita. Dengan kita mengetahui akar penyebab timbulnya masalah, kita
Gambar: diagram analisis fish bone
Dari analisis sebab tersebut didapatkan bahwa kemerosotan moral generasi muda bangsa ini disebabkan oleh, pertama, lingkungan terutama teman-teman dekat mereka cenderung memiliki sifat dan karakter yang buruk, sehingga anak-anak yang lainnya ikut terpengaruh oleh sifat dan karakter buruk tersebut. Kedua, teknologi. Kemajuan teknologi membuat anak-anak sangat mudah mendapatkan alat komunikasi seperti handphone, laptop dan alat-alat canggih lainnya. Hal ini memudahkan pula anak-anak untuk mengakses konten-konten yang berpotensi merusak moral mereka. Ketiga, dari sistem pendidikan belum sepenuhnya menerapkan kurikulum pendidikan yang mengedepankan moral dalam membentuk karakter siswa, tidak ada lagi pendidikan moral Pancasila sebagai sarana pembentukan karakter anak-anak sekolah, baik SD/MI, SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Keempat, anak-anak belum memahami arti moral dan mengapa moral itu penting. Di samping itu, mereka tidak menemukan contoh penerapan moral dalam aktivitas sehari-hari mereka. Tidak ada contoh dari orang-orang terdekat mereka.
Dari beberapa penyebab tersebut, penulis mencoba membatasi pada akar masalah ketiga, yakni sistem pendidikan belum sepenuhnya menerapkan kurikulum pendidikan yang mengedepankan moral dalam membentuk karakter siswa. Kajian ini penulis batasi hanya pada siswa kelas III MI Alfalahiyyah.
Solusi: Penerapan pendidikan moral sebagai pembentuk karakter siswa kelas III MI Alfalahiyyah.
Maka, solusi apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah ini? karena saya merupakan salah satu generasi muda juga, berikut pendapat saya mengenai tiga langkah yang sekiranya dapat meminimalisir krisis moral bagi generasi muda kedepannya. Pertama, kita harus waspada dan selektif dalam segala arus globalisasi yang terjadi saat ini. Maksudnya adalah kita harus bisa memilih mana budaya yang dapat kita serap dari luar yang memang bisa memajukan bangsa Indonesia kedepannya sesuai dengan pancasila tentunya. Karena sebenarnya globalisasi bisa ditinjau dari dua arah, yakni hal positif dan hal negatif. Hal positifnya adalah memudahkan kita untuk mendapatkan segala informasi dari berbagai sumber dan negatifnya adalah dapat menghilangkan jati diri bangsa karena terlalu banyak budaya yang masuk. Oleh karena itu sangat penting bagi generasi muda untuk bersikap pintar dalam menghadapi arus globalisasi saat ini. Kedua, pembinaan moral oleh orang tua yang harus dilakukan sejak dini. Peran orang tua dalam mengatasi krisis moral pemuda itu cukup penting, karena sosok mereka lah yang akan memberikan pendidikan serta pemenuhan hak-hak anaknya untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi masing-masing, agar karakter anak dapat terbentuk mulai dari kecil hingga di masa yang akan mendatang, mereka akan tumbuh menjadi penerus bangsa yang berakhlak. Ketiga, yang tak kalah penting yaitu meningkatkan keimanan diri. Iman secara isitilah yakni mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati, dan mengamalkan dalam perbuatan. Kualitas keimanan seseorang dapat dilihat dari tingkah lakunya. Dengan segala perilaku menyimpang para pemuda seperti yang saya paparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kurangnya keimanan dan ketaqwaan para pemuda saat ini terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Seperti yang saya katakan di awal, bahwa generasi muda saat ini berperilaku seenaknya tanpa rasa malu. Padahal sifat malu merupakan ciri khas akhlak dari orang beriman. Logikanya, orang yang memiliki sifat malu, maka setiap kali melakukan kesalahan, dia akan menyesali perbuatannya karena malu. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki rasa malu, dia akan cuek saja terhadap apapun yang dia lakukan, walaupun itu berdampak terhadap orang disekitarnya. Maka dari itu, sebagai generasi muda yang akan memegang bangsa ini kedepannya, kita harus berusaha menjadi insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, agar kedepannya kesatuan dan keutuhan bangsa dapat terjaga dengan dipegangnya oleh generasi muda yang beriman.
Pada intinya, krisis moral generasi muda ini harus segera diatasi. Karena mereka lah yang akan menahkodai bangsa ini kedepannya. Mereka memegang peran besar bagi bangsa ini. Mereka dituntut untuk bersatu dan menjadi agent of change untuk menuju perubahan ke arah yang lebih baik lagi dari generasi sebelumnya. Pembinaan ideologi bangsa dan wawasan kebangsaaan semaksimal mungkin harus ditanamkan sejak dini, guna menyiapkan SDM yang cakap dan tangguh untuk melawan tantangan-tantangan kedepannya. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama dan dukungan dari pemerintah dan masyarakat agar generasi muda ini dapat menjaga kutuhan dan kedaulatan bangsa Indonesia.
Penutup
Kemerosotan moral generasi muda menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya guru. Penerapan pendidikan moral bagi siswa-siswi kelas III MI Alfalahiyyah adalah salah satu solusi pencegahan terjadinya kemerosotan moral bagi para anak-anak usia SD dan MI.
Referensi:
Ta’zhimul ‘Ilmi, Syaikh Sholeh bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, Muqorrorot Barnamij Muhimmatil ‘Ilmi.
Siyar A’laamin Nubala’, Imam Adz Dzahabi, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-11, tahun 1422 H, jilid ke-10.
Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ibrahim Yajus, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan kesepuluh, tahun 1432 H.
Al Madkhol, Mawqi’ Al Islam, Maktabah Asy Syamilah
http://majles.alukah.net/t17143/
Setuju banget umi...anak2 harus belajar adab dulu dari awal sebelum pengenalan ilmu2 yang lain...terimakasih sudah menginspirasi kami selaku orang tua harus lebih mengutamakan adab dulu ke anak2 karena adab yg baik insyaallah akan dibawa sampai nanti...sukses buat Umi Dahlia..
posted by Eriyana Minggu, 28 Agustus 2022 19:46 Comment Link