Benarkah Idul Fitri Itu Kemenangan

30 Juli 2014, 12:00 am Written by 
Published in Agama
Read 2194 times

BENARKAH IDUL FITRI ITU KEMENANGAN ?

Kenapa Idul Fitri disebut sebagai Hari Kemenangan ? Entah darimana asal muasalnya, istilah itu jadi populer di masyarakat. Tengok saja ucapan selamat Idul Fitri biasanya disertai dengan istilah Hari Kemengan. Apa benar yang merayakan Idul Fitri itu pemenang ? Mungkin - karena baru saja menyelesaikan Ibadah shaum Ramadhan yang berat untuk mengendalikan hawa nafsu.

 

Apa benar orang-orang yang shaum ramadhan itu telah berhasil mengendalikan hawa nafsunya ? Rasanya kok tidak. Lihat saja saat-saat menjelang akhir ramadhan, jamaah tarawih semakin maju, yang tadarrus mulai berkurang. Mereka yang pada awal ramadhan memadati masjid dan musholla mengalihkan aktivitasnya ke mall, plaza, pasar untuk berbelanja menyiapkan idul fitri, ditopang dengan bombardier iklan produk tahunan/ musiman diiringi dengan ucapan selamat Idul Fitri merayakan kemenangan.

 

Menghadapi dan merayakan Idul Fitri, belanja dengan membabi buta agar Idul Fitri jadi bergengsi, beli pakaian baru, mobil/motor baru. Interiror rumah baru, hingga uang kaku cetakan baru, perhiasan baru, memaksakan mudik untuk menunjukkan kesuksesan hidup di kota. Orang-orang seperti inilah yang menambah penderitaan masyarakat dan beban Negara.

 

Betapa tidak, dengan ulah mereka justru harga-harga naik karena nafsu belanja yang tidak terkendali demi gengsi, beli apa saja meski harus hutang. Lantas apakah orang-orang seperti ini layak untuk merayakan kemenangan Idul Fitri ? ya, mereka ingin dan harus merayakan dengan segala gemerlap dan aksesoris dunia, bak baru saja memenangkan liga champion Ramadhan ( LCR ) , tak peduli dari mana uang yang dipakai.

 

Kerja keras setahun hanya lenyap dalam beberapa hari lebaran, mereka inilah pecundang. Jumlah mereka itu lebih banyak dibanding mereka yang tetap istiqomah dengan shaumnya. Yang berburu Lailatul Qadar dengan khusyu, berdiam di rumah ALLOH. Sperti janji ALLOH jumlah mereka memang sedikit “ Wa Qolilun Min Ibadyasykur “.

 

Keberhasilan shaum menjadi insan Muttaqin menjadi bekal untuk berperang mengendalikan hawa nafsu pada 11 bulan berikutnya. Idul Fitri bukan kemenangan karena baru titik start menuju pertempuran yang sebenarnya yang jauh lebih berat. Mengendalikan hawa nafsu di bulan Ramadhan, beribadah, tadarrus di masjid, mau qiyamul lail enteng karena situasinya mendukung.

 

Ibadah jadi mudah karena setan laknatulloh dibelenggu, pintu neraka ditutup rapat dan pintu syurga dibuka lebar-lebar, para penggoda ibadah sedang diistirahatkan. Maka ketika kemaksiatan tetap merajalela saat Ramadhan, bukan salah setannya, tetapi hawa nafsu manusia yang mengcopy paste dari setan yang sudah mendarah daging. Tanpa digoda oleh setan pun sangat lancer bermaksiat. Medan laga yang sesungguhnya justru saat akhir Ramadhan atau 1 Syawwal Dst.

 

Disitu terjadi serangan balik yang maha hebat, setan yang lepas dari belenggu sebulan akan kejar setoran mengejar target korban yang tertunda sebulan Ramadhan. Kembali menggerakkan segala tipu dayanya untuk mengajak manusia pada kenikmatan sesaat di dunia, menanamkan Ideologi Syaithoniah untuk melupakan masjid, sholat, amar ma’ruf nahi munkar, kejujuran, keadilan dan rasa kemanusiaan.

 

Ibadah yang giat dilakukan selama Ramadhan tidak berdampak dan berlanjut, maka jangan heran kalau berat rasanya mau shaum lagi ( 7 hari shaum syawwal ), sholat malam, tartil Al-Qur’an, shodaqoh itu tandanya kita baru saja ditaklukkan kembali pada ideologi Syaitoniah, lantas kemenangan apa yang kita peroleh pada Idul Fitri ? Memang tidak semua, masih ada yang menang hakiki saat Ramadhan walaupun sangat sedikit yang terbanyak adalah pecundang yang kemudian menjadi budak syaithan.

 

Masih ada yang melanjutkan awalan-awalan Ramadhan untuk meningkatkan iman dan menguatkan predikat taqwa, shoum tetap dilakukan meskipun sunnah, tahajjud qiyamul lail menjadi ringan karena sudah menjadi kebutuhan, tartil Al-Qur’an dan shodaqoh lebih meningkat. Jika semua itu istiqomah dikerjakan sampai Ramadhan yang akan dating itulah pemenang yang sesungguhnya peraih “ Liga Champion Ramadhan “ yang patut didoakan “ Taqobbalallahu minna wa minkum, Taqobbal ya karim “. Semoga kita kembali berjumpa di Ramadhan yang akan datang, amin. 

Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.