Pertanyaannya Bagaimana amaliah pasca Ramadhan hingga bertemu lagi dengan Ramadhan berikutnya jika Allah memberi umur panjang?
Secara Syari'ah amaliah akhir Ramadhan adalah
1. Mengeluarkan Zakat Fitrah sebelum Sholat ied
2. Takbir pada malam Idul Fitri
3. Sholat Ied berjama'ah di lapangan terbuka
4. Banyak bersedekah pada fakir miskin
5. Shoum 6 hari di bulan Syawwal
Secara adat / tradisi umat islam indonesia:
1. Bermaaf-maafan
2. Halal bi halal / silaturahim
3. Mudik
Bermaaf-maafan
Saling bermaafan adalah tradisi luhur paling populer dalam nuansa Idul Fitri semua orang membuka pintu maaf dan tanpa ragu meminta maaf kepada siapa pun yang ditemui. Ungkapan khasnya “mohon maaf lahir dan batin”.
Saling memaafkan adalah perintah Alloh SWT agar terjadi kehidupan yang tenang dan harmonis antara sesama manusiamanusia. Allah SWT dalam Al-quran menggunakan kata insan untuk menunjukan kepada manusia. Kata insan terambil dari kata Uns yang artinya "senang" Atau "Hubungan Harmonis" sehingga dapat dipahami bahwa manusia pada rasanya selalu merasa senang saat bertemu dengan sesama dan berusaha menjalin hubungan yang harmonis antar sesama.
Populer juga pandangan yang menyatakan bahwa kata insan terambil dari kata "Nisyan" Yang artinya lupa, Alloh menganugerahi sifat lupa antara lain agar dia dapat melupakan kesalahan orang lainatau kesedihan yang pernah dialaminya.
Terganggunya hubungan harmonis terjadi akibat dosa atau kesalahpahama, akan tetapi manusia akan kembali ke keharmonisan pada saat menyadari kesalahannya dan berusaha mendekat kepada orang yang pernah dia lukai hatinya. Dari sini Islam mensyariatkan upaya saling memaafkan.
Dalam Al-quran tidak ditemukan satu ayat pun yang menggunakan kata yang menunjukan kepada "permintaan maaf" Kepada sesama manusia, yang ada hanyalah perintah untuk memberi maaf.
وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang" (QS An-Nuur [24] 22)
Kesan yang ditimbulkan oleh ayat ini adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah, memaafkan berarti mengundang ampunan Alloh SWT karena itu mereka yang enggan memberi maaf, pada hakekatnya enggan memperoleh pengampunan dari Alloh SWT dan karena itu pula tidakdikenal dalam kamus agama ungkapan "tiada maaf bagimu".
Ada juga kata yang digunakan Al-quran untuk menunjuk kepada "maaf plus" Yakni kata Al-shafh. Kata ini dalam berbagai bentuknya terulang dalam Al-quran sebanyak delapan kali. Ia pada mulanya berarti "lapang". Halaman dalam sebuah buku atau ruangan dinamai "Shafhah" Karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini Al-shafh diartikan kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai "musha fahah" Karena merupakan perlambangan kelapangan dada orang-orang yang berjabatan tangan itu.
وَاِنۡ تَعۡفُوۡا وَتَصۡفَحُوۡا وَتَغۡفِرُوۡا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ
"Apabila kamu memaafkan, melapangkan dada serta melindungi, maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi maha penyayang (QS At-Taghabun [64]: 14)
فَاعۡفُ عَنۡهُمۡ وَاصۡفَحۡ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡ
" Maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada, sesungguhnya Alloh senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap orang yang melakukan kesalahan kepadanya) ( QS al-Maidah [5]: 13)
Dengan "As-shafh" Seseorang dituntut membuka lembar baru, sehingga hubungan tidak ternodai sedikitpun, tidak kusut, musha fahah (jabatan tangan) adalah lambang kesediaan seseorang untuk membuka lembaran baru dan tidak mengingat atau menggunakan lembaran lama, memaafkan merupakan ciri orang bertaqwa.
الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالۡكٰظِمِيۡنَ الۡغَيۡظَ وَالۡعَافِيۡنَ عَنِ النَّاسِؕ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡ
"Yang mampu menahan amarah dan memaafkan manusia (yang bersalah). Alloh menyayangi orang-orang muhsin (yang berbuat baik). (QS Ali imron 134)
Rosululloh Saw memberikan kita bimbingan " Carilah alasan untuk untuk memaafkan saudaramu walau hingga 70 alasan" Seorang murid bertanya kepada gurunya, Imam hasal Al-basri "mengapa Rosulullah menyuruh kita mencari 70 alasan untuk memaafkan? Jawab hasal Al-basri "itu menunjukan pentingnya memaafkan, sebelum kita sampai pada 70 alasan, kita belum bisa memaafkan, kita harus bersedih karna memiliki hati sekeras batu".
Halah bi halal
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, maaf memaafkan sama dengan Halal bi halal. Istilah Halal bi halal sendiri bukan dari Al Qur’an atau Hadist, bahkan bukan pula berasal dari negeri arab, mungkin hanya orang Indonesia saja yang memahami makna Halal bi halal.
Halal bi halal adalah bahasa Arab yang maknanya tidak dipahami oleh orang arab. Asal kata halal tersebut berasal dari akar kata halla-yahillu yang berarti singgah, memcahkan, melepaskan, menguraikan, dan mengampuni.
Halal bi halal merupakan suatu bentuk aktifitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang yang kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya membeku hingga mencair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu, mengatasi kesulitan yang menghalangi terjadinya keharmonisan hubungan.
Maaf memaafkan dan Halal bi halal hakekatnya adalah silaturahim (Shilah al-rahim) Silaturahim terdiri dari kata shilah yang terambil dari akar kata washola yang berarti menyambung dan ar-rahim yang pada mulanya berasal dari nama Alloh, lalu diberikannya kepada manusia untuk menunjukan pada sesuatu yang terjadi penyebab kasih sayang yakni “rahim / peranakan” walaupun di Al-Qur’an tidak terdapat istilah shilaturahim, namun ada sekian ayat yang mengisyaratkan pentingnya memelihara shilaturahim.
وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
“Bertaqwalah kepada Alloh yang dengan mempergunakan namanya, kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan rahim, sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasi kamu (QS An-Nisa 1)
فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekluargaan?
Mereka itulah orang-orang yang dikutuk alloh, ditulikannya telinga mereka dan dibutakannya pula mata mereka (QS Muhammad 22-23)”
Mudik
Kuatnya dorongan dan tradisi maaf memaafkan, halal bi halal, dan silaturahim menimbulkan tradisi yang lain yaitu “mudik” yang hakikatnya mudik adalah menjalin silaturahim dengan orang tua, sanak saudara, kerabat, atau kawan karib ditempat asal (kampung halaman).
Secara bahasa “mudik” artinya “menuju udik” dalam Kamus Besar Bahasa indonesia “udik” antara lain berarti desa, dusun, kampung (lawannya kota) oleh karena itu mudik juga sering disebut “pulang kampung”
Jadi jika ditelaah lebih dalam ada makna hakiki dari mudik ini yakni “kembali ke asal” dalam pengertian kembali kepada fitrah. Cenderung kepada kebenaran (hanief) secara psikologis “udik” adalah tempat, ruang dan waktu yang masih murni, bersih, belum dikotori oleh polusi peradaban kota, merindukan kedamaian suasana udik jauh dari kejamnya kehidupan kota, kota adalah tempat kerja, cari uang, mengejar cita-cita duniawi berupa kekayaan, popularitas dan jabatan. Ketika semua telah diperolehnya “udik” memanggil untuk menawarkan kedamaian dan ketenangan.
Tradisi mudik adalah peristiwa besar yang melibatkan mobilitas penduduk yang tahun ini diperkirakan akan ada 85 juta orang yang melakukan perjalanan mudik dengan berbagai moda transportasi. Mereka beramai-ramai mudik sebenarnya sedang setia kepada ttuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal usulnya. (wallohua’lamu bis-showaab).
{طِبِّ الْقُــلُـوْبِ}
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُــلُـوْبِ وَدَوَ ائِــهَا
Ya Alloh curahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW sebagai obat dan penyembuhnya
وَعَافِـيَةِ اْلأَ بْدَانِ وَشِفَـائِــهَا, وَ نُـوْرِ اْلأَ بْـصَارِ وَضِيَـائِــهَا
Penyehat badan dan kesembuhannya dan sebagai penyinar penglihatan mata beserta cahayanya.
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلـِّمْ
Semoga sholawat dan salam tercurahkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya.
رَ بَّـنَا انْـفَـعَـنَا بِمَا عَلَّـمْتَــنَا رَبِّ عَـلِّمْـنَا الَّذِيْ يَـنْــفَـعُــنَا
Ya Alloh berikanlah manfaat dengan apa yang telah kami pelajari. Ya Alloh berilah ilmu yang bermanfat kepada kami
رَبِّ فَـقِّــهْنَا وَفَـقِّهْ اَهْلَـنَا وَقَـرَ بَاتِ لَــنَا فِي دِيْـنِــنَا
Ya Alloh berilah kecerdasan kepada kai, kepada keluarga kami dan kepada kerabat-kerabat kami dalam agama kami.
رَبَّنَا اتِـنَا فِي الدُّنْـيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآ خِرَةِ حَسَنَةً وَّقِـنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Alloh berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, peliharalah kami dari siksa neraka.
{اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكَ زَيْنَ اْلأَ نْــبِيَاءْ}
اَلسَّلاَ مُ عَلَـيْكَ زَ يْـنَ اْلأَ نْــبِيَاءْ
اَلسَّلاَ مُ عَلَيـْكَ اَ تْــقَى اْلأَ تْــقِــيَاءْ
اَلسَّلاَ مُ عَلَـيْكَ اَصْفَى اْلأَ صْـفِــيَاء
اَلسَّلاَ مُ عَلَـيْكَ اَزْكَى اْلأَ زْ كِــيَاء
اَلسَّلاَ مُ عَلَـيْكَ مِنْ رَبِّ السَّمَاءْ
اَلسَّلاَ مُ عَلَـيْكْ - اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكْ
اَلسَّلاَ مُ عَلـَيْكَ اَحْمَدْ يَا حَبِيْـبـِي
اَلسَّلاَ مُ عَلَـيْكَ طَـهَ يَا طَبِـيْــبِيْ
اَلسَّلاَ مُ عَلَـيْكَ دَائِــمًا بِلاَ نـْـقِضَاءْ
اَلسَّلاَ مُ عَلَـيْـكْ - اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكْ
{صَــلَـوَة اَشْــغِــلْ}
اَللَّــهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَـمَّدْ وَاَشْغِـلِ الظَّـالِمِـيْنْ بِالظَّـالِمِيْنْ
وَاَخْرِجْــنَا مِنْ بَـيـْنِـهِمْ سَالِـمِيْنْ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِـيْنْ.
Ya Alloh limpahkanlah sholawat kepada junjungan kami Muhammad SAW, dan sibukkanlah kezaliman orang yang zolim dengan kezalimannya. Keluarkanlah kami dari perbuatan mereka dengan selamat, dan kepada keluarga dan sahabatnya semua.