Oleh : Eka Fadhil Ibrahim (Pembina UKS & Pramuka MI Al-Falahiyyah)
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menciptakan penyakit sekaligus metode penyembuhan penyakit itu. Suatu penyakit dapat dinyatakan sembuh atas izin Allah dengan dua macam treatment sebagai proses penyembuhan, yakni treatment fisik dan non fisik. Hal ini berdasarkan Al-Qur’an bahwa penyakit bukan hanya penyakit fisik namun juga penyakit non fisik yang tidak nampak seperti kotor iman, kemunafikan, ujub, riya, sombong, ragu-ragu, dusta dan kufur nikmat.
Menurut Harious Houkar, yousuf saad dkk dalam papernya berjudul “The heart and cardiovaseular system in the qur’an and hadecth” Al-Qur’an dan hadist membagi beberapa penyakit fisik seperti : sakit perut (abdominal pain), mencret (diarelea), demam (fever), kusta (leprosy) dan penyakit mental. Obat yang manjur menurut Al-Qur’an adalah madu yang banyak mengandung gula, vitamin dan anti mikroba. Untuk mencegah berbagai penyakit, Al-Qur’an melarang keras mengkonsumsi daging babi, bangkai dan darah serta binatang yang disembelih tidak atas nama Allah SWT.
Abdul Aziz Al-Kahalidi membagi dua obat (syifa) penyembuh penyakit yakni obat hissi untuk penyembuhan penyakit fisik dan obat ma’nawi untuk penyakit non fisik. Obat hissi seperti berobat dengan air, madu, buah-buahan yang disebut dalam Al-Qur’an sedangkan obat ma’nawi seperti do’a-do’a dan isi kandungan Al-Qur’an. Pembagian atas dua kategori obat didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia terdapat dua substansi yang bergabung menjadi satu yakni jasadiah dan ruhaniah.
Penyakit Menurut Sains
Bila merujuk pada teori ilmu kesehatan kontemporer, sumber penyakit berasal dari empat sumber yakni, toksil (racun) yang tertimbun dalam tubuh, ketidakseimbangan suhu badan, ketidakseimbangan angin dan ketidakseimbangan pikiran. Asal mula adanya racun dalam tubuh bersumber dari bahan-bahan kimia yang berlebihan ketika mengkonsumsi makanan-minuman yang terkandung didalamnya seperti bahan pengawet, pewarna dan lainnya yang tidak diperlukan tubuh. Sedang ketidakseimbangan suhu badan karena adanya sistem pengeluaran urin yang bermasalah, demikian halnya ketidakseimbangan angin menyebabkan masalah di dalam usus besar dan matinya bakteri positif serta berkurangnya enzim tubuh, sementara ketidakseimbangan pikiran (stress) menyebabkan tubuh mengeluarkan enzim steroid yang melemahkan sistem imun tubuh kita.
Pendapat pakar lainnya menyebutkan, penyakit bukan disebabkan oleh virus, kuman, bakteri atau lainnya, melainkan karena kelemahan sistem daya tahan tubuh manusia (sistem imunitas). Apabila sistem imunitas lemah atau terganggu, maka kuman, bakteri, atau virus mulai menyerang tubuh. Sebagai lustrasi tentang sisitem imunitas, orang-orang yang bekerja sebagai pemulung nampak selalu kelihatan segar dan kuat walaupun selalu berada di tempat kotor, sementara banyak orang yang sehari-hari bekerja di ruang bersih ber-AC, jarang keluar ruangan banyak yang terjangkit penyakit kronis.
Berdasarkan tempatnya, rumah sakit pun dapat menjadi sumber penyakit yang disebut nosokomial. Kulitas bakteri di rumah sakit bisa lebih ganas dibandingkan tempat-tempat fasilitas umum lainnya, karena sebelumnya telah berkompetisi secara alami dengan bakteri/kuman lainnya, sehingga keunggulan dan bertahan hidup mengalahkan bakteri lain. Proses pengobatan atau lainkan memerlukan proses perawatan khusus. Para dokter, perawat, bidan dan paramedis yang bertugas di rumah sakit tergolong komunitas profesi yang sangat rawan tertular penyakit nosokomial. Anggota masyarakatpun berpotensi terkena penyakit nosokomial bila membesuk pasien yang tengah dirawat inap di rumah sakit.
Lemari pendingin (kulkas) yang terdapat dalam rumah pun dapat menjadi sumber penyakit. Makanan yang disimpan lama di dalam kulkas dapat ditumbuhi jamur. Jamur dapat menyebabkan reaksi alergi dan masalah pernapasan. Beberapa jenis jamur menghasilkan mikro toksin yaitu zat beracun yang dapat membuat orang sakit.
Makanan yan mengandung protein pun dapat menjadi sumber penyakit. Padahal selama ini protein diperlukan tubuh untuk membangu otot, jaringan kulit, rambut, kuku, tulang dan bagian tubuh lainnya. Idealnya seseorang butuh 0,72 gram protein untuk setiap kg berat badannya. Jika berat badan seseorang 80 kg, maka protein yang dibutuhkan adalah sekitar 57 gram. Menurut Gail l-sel lemak yang bisa disimpan dalam jaringan lemak. Jika kelebihan, tubuh tidak punya tempat untuk menyimpan kelebihan protein oleh karena itu kebanyakan protein akan diubah oleh tubuh menjadi lemak terlebih dahulu untuk disimpan. Disinilah kunci dadri bahaya kelebihan protein.
Gail Butterfield yang juga menjabat sebagai Direktur Nutrition Studies at the palo alto veteraus administration medical center, mengatakan bahwa kelebihan protein bisa menghasilkan senyawa “kotor” yang bersifat racun. Senyawa tersebut akan menyebabkan ginjal bekerja lebih berat untuk mengeluarkannya dari tubuh. Alhasil ginjal akan lebih banyak membutuhkan air dan dari situlah dehidrasi muncul. Jika tubuh sudah dehidrasi, berat badan bisa berkurang, karena massa otot dan tulang berkurang. Akibatnya timbul osteoporosis. Dehidrasi juga menyebabkan ginjal menjadi stress dan efeknya akan menyebabkan tubuh menjadi lemas, pusing, bau mulut dan lainnya. Protein juga bisa menyebabkan reaksi alergi, seperti dermatitis tpie, kaligata, penyakit kolagen, colitus ulserativa dan penyakit crohu. Protein hewani yang berlebihan dapat merusak DNA dan mengubah sel-sel menjadi kanker.
Penyakit Menurut Al-Qur’an
Pada dasarnya penyakit bersumber dari diri sendiri bukan berasal dari virus, bakteri, kuman, nyamuk, mutasi sel dan lainnya. Virus, bakteri yang merajalela di dalam tubuh ketika sakit bukanlah sebab melainkan akibat.
Jadi sumber penyakit adalah perbuatan manusia itu sendiri melalui tingkah laku kita sehari-hari yang kurang terpuji di hadapan Allah SWT, akhlak yang kurang baik menjadikan malaikat Atid terus mencatat dan mencatat serta melaporkannya dihadapan Allah SWT. Dimana sudah berjalan bertahun-tahun bahkan juga puluhan tahun sehingga akhirnya Allah menurunkan musibah berupa penyakit sebagai peringatan sebagai peringatan bagi ummatNya agar segera kembali ke jalan-Nya.
Pendapat tersebut di atas mengacu pada firman Allah SWT dalam surat As-Syura ayat 42-30 :
“ Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak melepaskan diri (dai azab Allah), di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah”.
Penekanan pada kata “pelindung dan Penolong” selain Allah, jadi jika manusia mau sembuh dari penyakit harus kembali kepada ajaran “Pelindung dan Penolong” manusia yaitu hanya Allah SWT. Pada ayat lain “Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudaratan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”