RASULULLAH SAW PEBISNIS ULUNG DAN JUJUR

4 November 2014, 6:38 pm Written by 
Published in Agama
Read 579 times

Oleh : Luthfi Aziz, S.Ag (Pustakawan MI Al-Falahiyyah)

 

Kondisi ekonomi perdagangan di abad 21 ini dalam keadaan sakit parah. hal ini ditandai dengan banyaknya praktik-praktik kotor para pebisnis, manipulasi barang & harga, kolusi pebisnis dengan penguasa, penimbunan barang dengan tujuan mendongkrak harga ke langit dan lain sebagainya. keuntungan yang seharusnya terbesar milik petani, namun dengan praktik ijin/rentenir justru petani hanya menikmati keuntungan sangat kecil.

Sesungguhnya ummat Islam sedunia telah diwariskan berbisnis beretika, jujur dan sukses. Rasulullah SAW menjadi pebisnis/pedagang sukses selama 28 tahun mulai dari usia 12 tahun sampai 40 tahun dan selebihnya adalah masa kerasulan sebagai suri tauladan bagi ummat muslim sedunia. bertolak belakang dengan tujuan bisnis saat ini yang hanya beroreintasi keuntungan/profit semata maka Rasulullah SAW sebagai entrepreneur memiliki pola piker, sikap dan tindak dalam menjalankan praktik bisnisnya sebagai berikut;

1)      Jujur. Kejujuran adalah syarat fundamental dalam berbisnis, beliau melarang membohongi konsumen sekecil apapun apalagi menguragi kadar & takaran.

2)      Haliyah. Berbisnis dilakukan dengan pengawasan Allah SWT dan sadar bahwa konsumen adalah makhluk Allah SWT yang tidak boleh dirugikan.

3)      Kebebsan individu yang bertanggung jawab, bukan bisnis paksaan atau riba yang menjerat kebebsan individu.

4)      Moral. Tanggung jawab moral kepada Allah SWT, mitra bisnis maupun konsumen.

5)      Keadilan dan keseimbangan, tujuan bisnis tidak boleh mengorbankan fungsi sosial dan fungsi-fungsi lain yang bernilai ibadah.

6)      Niat baik. Niat baik adalah asset pebisnis yang paling berharga selain menjadi tolak ukur harkat dan martabat pebisnis sendiri juga bernilai manfaat bagi mitra dan konsumen.

7)      Bertekad mewujudkan mimpi. Dari seorang pengembala berniat taraf hidupnya mennjadi pedagang lalu manajer hingga menjadi owner (pemilik perusahaan). Beliau adalah entrepreneur cerdas & clean.

8)      Branding Image. Modal utama berbisnis sesungguhnya bukanlah modal finansial, tapi kepercayaan yang berwujud pada “merek dagang” . Ingat julukan Rasulullah SAW “al-Amin” atau “Mr. Clean” . Inilah branding image Rasulullah yang utama.

Cara Merintis Bisnis :

1)      Fokus dan konsentrasi.

2)      Mempunyai goal dan rencana yang rinci dan jelas.

3)      Merintis dan memulai dari nol tanpa KKN.

4)      Ulet dan tidak mudah putus asa. Rasulullah bersabda “Jangalah kamu berdua putus asa dari rizki Allah SWT selama kepalamu masih bergerak, karena manusia dilahirkan ibunya dalam keadaan merah tanpa baju, kemudian Allah berikan rizki kepadanya” (HR. ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya).

5)      Berusaha mengikuti trend center.

6)      Inovatif. Semua barang yang dijual Rasulullah SAW selalu berbeda dari kompetitornya dengan harga bersaing namun (hight quality).

7)      Memahami kondisi dan selalu menganalisa pasar.

8)      Kemampuan merespon strategi kompetitornya.

9)      Belajar menguasai gejolak pasar. Dikisahkan ketika beliau di Mekkah para pedagang kamu Quraisy ingin menghancurkan bisnis beliau, mereka menjual barang-barang mereka dibawah harga pasar. beliau menerapkan hukum supply & demand, beliau menyiasati dan bersabar. siasat barang dagangan pedagang Quraisy  habis, beliau baru menjual barangnya dengan harga normal karena beliau menyelidiki kalau demand jauh lebih tinggi dari supply. Itulah kejelian melihat, menganalis, dan memahami pasar, hingga akhirnya menguasai pasar yang ada.

10)  Menguasai manajemen pemasaran secara efektif.

11)  Menghilangkan mental blocking yakni ketakutan yang berlebihan dalam menghadapi kegagalan usaha. Rasulullah SAW dapat mengalahkan diri sendiri dari hal-hal negatif (mujahadah).

12)  Mampu menarik dan menyakinkan pemilik modal untuk ikut serat dalam bisnis yang dijalankannya.

 

Cara Menjalankan Bisnis :

 

1)      Bekerja sama (bersinergi) Beliau bersabda “Keberkahan sesungguhnya berada dalam jama;ah dan tangan Allah sesungguhnya bersama jama’ah”

2)      Kerja cerdas, kreatif dan vsioner.

3)      Menerapkan kesepakatan win-win solution.

4)      bekerja dengan skala proritas.

5)      Tidak melakukan monopoli.

6)      Selalu berusaha dan tawakkal.

7)      Tepat waktu.

8)      Berani ambil resiko.

9)      Tidak menumbun barang (ihtikar). Beliau bersabda “Pedagang yang mau menjual barang dagangannya dengan spontan akan diberi kemudahan, tetapi penjual yang sering menimbun dagangannya akan mendapat kesusahan” (HR. Ibnu Majah dan Thusiy)

10)  Profesional pada bisnis yang dikelolanya.

11)  Selalu bersyukur dalam segala kondisi.

12)  Berusaha mandiri, ulet dan tawakkal.

13)  Menjaga martabat harga diri, kehormatan dan kemuliaan dalam proses interaksi bisnisnya.

14)  Melakukan bisnis berdasarkan cinta kasih (passion).

15)  Tidak menzalimi (merugikan) orang lain .

16)  Rajin bersedekah.

Cara Memasarkan Produk :

1)      Memasarkan produk halal dan suci.

2)      Tidak melakukan sumpah palsu.

3)      Tidak berpura-pura menawar dengan harga tinggi agar orang tidak tertarik.

4)      Melakukan timbangan dengan benar.

5)      Tidak menjelekkan dagangan orang lain. Beliau bersabda; “Janganlah seseorang diantar kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual orang lain” (Muttafaqa Alaih).

6)      Pintar berpromosi.

7)      Transparansi (keterbukaan). Beliau bersabda; “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satupun dagangannya yang mempunyai cacat, sebelum dia menjelaskan cacatnya” (HR. Al-Quziraini)

8)      Mengutamakan Pelanggan (customer satisfaction).

9)      Memiliki networking.

10)  Tidak mengambil untung yang berlebihan.

11)  Mengutamakan penawar pertama.

12)  Menawar dengan harga yang diinginkan.

13)  Melakukan perniagaan sepagi mungkin. Rasulullah SAW mendo’akan orang yang sepagi mungkin dalam bekerja. “Ya Allah, berkahilah ummatku dalam berpagi-paginya mereka”.

14)  Menjaga kepercayaan pelanggan.

15)  Mewujudkan win-win solution.

16)  Barang dagangan harus bermutu, murah, bermanfaat, mutakhir dan berkualitas.

17)  Kemudahan dalam hal transaksi dan pelayanan.

18)  Menentukan harga dengan jelas ketika akad (deal)

       Hidup dengan berorientasi akhirat atau bekerja untuk ibadah akan menumbuhkan motivasi berprestasi dan menghindarkan diri dari berbuat kerusakan dalam lingkungan kerja seperti melanggar kode etik, tata tertib, aturan dan merusak nama baik institusi.

Demikian semoga kita menjadi pribadi muslim yang senantiasa melakukan perbaikan diri.

Rate this item
(0 votes)
More in this category: « Bersin Dan Menguap

2 comments

  • cecep

    Ketika sy masih berusia lebih kurang 14 tahun, ketika itu sy msh duduk di bangku MTs, saya hadir dlm pengajian yg diadakan di masjid dekat rumah, masih teringat dalam memory sy ucapan Almukarrom KH Abd.Razak Chaidir (pengajian malam selasa) beliau mengutip Dawuh kanjeng Nabiyulloh Muhammad SAW "ATTAJIRUSH SHODUUQ NAHSYURUHUM YAUMAL QIYAMATI MA'AN NABIYYIIN WA SYUHADAA-I WASH SHOLIHIIN... Artinya Pedagang yang Jujur kelak kami kumpulkan pada hari Qiamat bersama para Nabi, para syuhada dan Orang2 soleh... begitu besar keutamaan bagi pedagang/pebisnis yg menjalankan bisnisnya dgn Kejujuran. Semoga dgn kita ingat akan penting'y kejujuran dlm berdagang, kita bisa berlaku jujur sehingga meraih kebahagiaan dunia akhirat...

    posted by cecep Kamis, 05 November 2015 14:24 Comment Link
  • cecep

    Ehmmm... Masya Alloh Laa quwwata illa billah...Dengan Nama Alloh dan Keselamatan hanya untuk orang yang ikuti Petunjuk (Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW) ... Menarik dari apa yang disampaikan oleh Guru kita Almukarrom Ustadz Luthfi Azis, S.Ag, tentang bisnis yang baik,jujur dllnya yg telah dicontohkan Nabi selama 28 tahun. Telah sama-sama kita mengetahui dalam kisah Nabi dan beberapa keterangan yg menceritakan kesuksesan Nabi di dalam berdagang/Bisnis. Beliau ikut berdagang bersama pamannya Abu Thalib, lalu stlh agak dewasa beliaupun membawa dagangan Khodijah yg karena kejujuran dan kesuksesannya dlm berbisnis/berdagang, shg Khodijah tertarik dari keluhuran akhlak Nabi selama berdagang... Rasulullah tdk cuma bisa mengatakan ' INNALLOHA TA'ALA YUHIBBU MA'AALIYAL AKHLAAQ' tetapi beliau menerapkan Ma'aaliyal Akhlak tersebutnya dlm realitas hidup sehari-hari. Baik Al-Qur'an ataupun Hadits, byk dijelaskan (seperti keterangan diatas) bgmn berdagang yg jujur, antara lain: Menjelaskan jika ada barang yg cacat kepada pembeli, tidak mengurangi timbangan(Curang) Hal ini ditegaskan sendiri oleh Nabiyulloh Muhammad SAW dalam sebuah Haditsnya "MAN GHOSYSYANA FALAISA MINNA" Hadits ini singkat memang, tetapi jika sedulur2 mau memahami,mengkaji dan meneliti serta mentafakkuri dgn sangat dalam, maka memiliki peringatan yg sangat keras dari sang Nabi agar tidak berlaku curang dlm berjualan/berdagang. Belom lagi ayat WAYLUL LIL MUTHOFFIFIINA dst..nya. Tapi sayang'y sedikit yg mau mengkaji,meneliti,mentafakkuri dalam2 ayat ini.Padahal ayat ini memiliki makna ancaman yg sangat keras dari Alloh buat para pedagang agar tdk berlaku curang/mau untung sendiri. Hadits dan ayat ini kalo di kupas secara tuntas sampe ke akar2nya bisa membutuhkan waktu tdk kurang dari 2 bulan. Tapi sekecil apapun pemahaman kita, yg terpenting adalah pengamalan''y sprti yg sdh dipraktekkan oleh Nabiyulloh Muhammad SAW semasa remaja'y beliau ketika berdagang. Shg beliau sebelum diangkat jadi Nabipun sdh dijuluki Al-Amin.

    posted by cecep Rabu, 04 November 2015 21:02 Comment Link

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.