Kenapa Orang Asia Minim Kreatif Daripada Orang Barat?

2 November 2014, 11:55 am Written by 
Published in Pengetahuan
Read 839 times

Oleh : Eka Fadhil Ibrahim

Sebagai pendidik tentu kita selalu didorong untuk bekerja dan berpikir kreatif, tak salah karena kualitas keilmuan, pengetahuan serta wawasan peserta didik sebagian besar tergantung bagaimana pendidik. Menurut KBBI makna kreatif adalah  memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan.

Kreativitas menurut Cronbach (1984; Richard dkk., 1999: 247) adalah “the ability to see something in a new way”. Kreatifitas adalah sesuatu kemampuan yang dapat melihat sesuatu menjadi hal baru. Dalam bukunya berjudul “Mengembangkan Kreativitas dalam Perspektif Psikologi Islami,” Nashori & Mucharram (2002: 33-34) sendiri mengatakan kreativitas adalah hasil karya atau ide-ide baru yang sebelumnya tidak dikenal oleh pembuatnya maupun orang lain dan boleh jadi bukan merupakan hasil sebuah produk tapi kreativitas adalah suatu anugerah yang dilimpahkan oleh Yang Maha Pandai (al ‘Alim) Allah Azza wa jalla kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Orang yang kreatif memiliki kebebasan berpikir dan bertindak, yang, merupakan perpaduan antara daya cipta, pemikiran, imajinasi, dan perasaan-perasaan yang memuaskan.

 Mungkin kita kenal Mark Zuckerberg Pendiri Facebook, lalu Jack Dorsey pencipta Twitter, Jan Koum Pengagas Whatsapp, bahkan Fredrik Idestam Pendiri perusahaan Nokia Corporation. Jika menelisik beberapa abad mundur kita tentu tahu penemu lampu adalah Thomas Alfa Edison atau Wright bersaudara yang pertama kali menerbangkan pesawat. Bukan tidak ada orang Asia yang juga turut andil dalam proses kreatif dan mampu berbicara banyak di dunia, namun dibandingkan dengan Orang Barat tentu betapa jauh kreatif orang Asia bagai bumi dan langit.

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland dalam bukunya “ Why Asians Are Less Creative Than Westerns” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller” mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran khalayak banyak manusia.

1.      Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka ukuran hidup sukses dalam mengarungi kehidupan adalah banyaknya materi yang dimiliki seperti memiliki rumah mewah, mobil mahal, uang berlimpah dan harta/materi lainnya. Passion (rasa cinta pada sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seseorang untuk meraih kekayaan berlimpah dan seketika mendapatkan prediket “orang sukses”

2.      Bagi orang Asia, Banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada Cara memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceria, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin yang mendadak kaya karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenisnya itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditelorir/diterima sebagai sesuatu yang wajar, bahkan telah menjadi satu dari hal yang lumrah.

3.      Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian/pemahaman. Ujian Nasional, tes masuk Perguruan Tinggi dll hampir seluruhnya berbasis hafalan. Sampai tingkat tertinggi (sarjana) mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4.      Karena berbasis hafalan, peserta didik baik tingkat sekolah menengah bahkan mahasiswa di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik untuk menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit-sedikit tentang banyak ha; tetapi tidak menguasai bidang apapun).

5.      Lantaran berbasis hafalan tersebut, tak heran jika banyak pelajar Asia mampu menyabet juara gelar dalam Olimpiade Fisika dan Matematika. Namun hampir tidak ada orang Asia yang meraih dan memenangkan Nobel atau penghargaan Internasional lainnya yang berbasisi inovasi dan kreatifitas.

6.      Orang Asia takut salah dan juga takut kalah yang berujung daya serta sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

7.      Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya hasrat penasaran  dan keingintahuan tidak mendapatkan tempat dalam proses pendidikan di sekolah .

8.      Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di berbagai lembaga pendidikan baik tingkat sekolah maupun universitas dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumun narasumber untuk meminta penjelasan tambahan.

 

Dalam bukunya  Prof. Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut :

1.      Hargai proses. Dengan menghargai proses bermakna sadar untuk menghargai orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.

2.      Hentikan proses pendidikan berbasis kunci jawaban. Dan iarkan peserta didik memahami bidang yang paling disukainya.

3.      Jangan memaksa murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau untuk jawaban X dan Y harus dihafalkan? Biarkan peserta didik memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar menguasainya.

4.      Biarkan anak memilih profesi berdasarkan passion (rasa cinta)nya pada bidang tertentu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

5.      Dasar sebuah kreatifitas adalah rasa penasaran yang tinggi dan keingintahuan nan dalam, maka beranilah mengambil resiko. Ayo Bertanya!.

6.      Pendidik adalah fasilitator, bukan dewa yang tahu akan segalanya. Mari akui dengan bangga kalau Kita Tidak Tahu.

7.      Passion manusia adalah anugerah Tuhan. Sebagai orang tua kita tentu mengembang tanggung jawab untuk mengarahkan anak-anak untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak- anak dan cucu serta peserta didik yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas, bermoral baik dan memiliki idealisme tinggi. Tetap belajar, menggali diri dan terus mengeksplorasi serta intropeksi diri untuk terus berkembang menjadi pendidik nan kreatif.

 

Sumber :

- harisberbagi.blogspot.com

- idearesort.com.

- wikipedia

Rate this item
(1 Vote)

2 comments

  • Untari Setyaningsih

    Artikel yang menarik. Saya setuju dengan comment di atas, sebagai orang tua, kita harus mengembalikan anak kepada apa yang mereka suka (passion). Ketika passion menyatu dalam diri anak-anak kita, mereka akan dapat dengan maksimal mengembangkan diri dan menjadi anak yang kreatif sekaligus bertanggung jawab dengan apa yang telah mereka pilih. Dampingi anak-anak kita dalam setiap proses pencarian akar diri mereka. Jadilah sahabat yang selalu ada dan terbuka terhadap ide-ide kreatif, namun tetap berkomitmen terhadap pendidikan moral sebagai landasan utamanya. Semangat bunda-bunda seperjuangan!

    posted by Untari Setyaningsih Rabu, 09 Desember 2015 19:26 Comment Link
  • Nurfa Dilla

    Artikel yg luar biasa bagus, memang kita harus mengajari anak2 untuk menghargai prosesnya bukan hasil akhirnya, namun tidak bs dipungkiri didikan orang tua jaman dahulu sangat berbeda dimana kita dituntut untuk menjadi profesi ini menjadi itu,harus berpenghasilan diatas segini, dan tuntutan2 lainnya sehingga sisi kreatifitas anak tidak terlihat, mereka menjalankan sesuatu dengan keterpaksaan.Saatnya anak2 kita dididik kreatif dan bekerja berdasarkan passion mereka sehingga apa yg dihasilkan bisa menciptakan kebanggaan diri, namun jgn lupa pendidikan agama dan moral ttp harus diutamakan.

    posted by Nurfa Dilla Senin, 23 November 2015 12:32 Comment Link

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.